Breaking News

Gerakan Anti Vaksin Bisa Ancam Kesehatan Ibu dan Anak

ket foto: Siti Khadijah Aspan (foto dok)

 

 OPINI

oleh:

Siti Khadijah Aspan

(Lulusan DIII Kebidanan, Mahasiswa Prodi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Fak Kedokteran Unissula)

 

SEMARANG (kampussemarang.com)- Konspirasi anti Islam, pemicu autisme, penggunaan komponen yang haram, sampai persepsi langkah terselubung genosida medis bagi suatu umat agama menjadi alasan kuat pencetus gerakan anti vaksin di seluruh penjuru dunia. Hingga sekarang, gerakan anti-vaksin ini tidak hanya berkembang di Indonesia saja. Beberapa negara lain juga melakukan hal serupa seperti Amerika Serikat, Inggris, Polandia, Romania dan berbagai negara lainnya.

Dukungan terhadap gerakan anti vaksin didukung oleh berbagai sumber mulai dari tokoh agama, pejabat politik sampai pakar kesehatan. William Tebb merupakan legendaris gerakan anti vaksin yang menyuburkan aksi ini pada tahun 1880an. William berpendapat bahwa tindakan menyuntikkan bibit penyakit ke dalam tubuh sebagai penanaman imunitas terhadap beberapa penyakit adalah tidak masuk akal. Donald Trump sebelum terpilih menjadi presiden pun mendukung pandangan bahwa vaksinasi menyebabkan autis.  Bahkan orang yang sangat mendalami dan berperan penting dalam pemberian vaksin pun akhirnya malah balik melawan tindakan vaksinasi.

Menurut laporan dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa jumlah anak yang tidak divaksinasi di bawah usia lima tahun mengalami peningkatan. Sedangkan apabila kita melihat dari sudut pandang medis dan agama sudah jelas memaparkan bukti-bukti sahih tentang pentingnya vaksin dan imunisasi. Perangkat hukum negara pun telah menghimbau masyarakat Indonesia untuk proaktif dalam menyukseskan program vaksinasi yang dilakukan semata-mata untuk melindungi ibu dan anak dari penyakit mematikan .

Ibu dan anak termasuk dalam kelompok yang rentan dari segala aspek salah satunya kesehatan.  Masih banyak penyakit yang mengancam kesehatan ibu dan anak seperti campak, TBC, Hepatitis B, Difteri, Tetanus, Batuk Rejan, Polio dan Haemofilus Influenza. Padahal, penyakit tersebut dapat dicegah dengan vaksinasi atau imunisasi. Namun, akibat pro kontra yang memperdebatkan masalah vaksinasi ini membuat warga dunia bingung untuk memilih apakah dirinya harus mendapatkan vaksinasi atau sebaliknya yaitu menghidari. Penolakan vaksinasi menyebabkan beberapa dampak buruk di berbagai bagian dunia. Tercatat pada 2003, wabah polio merebak dan menyebar ke sembilan negara tetangga Nigeria, pada tahun 2017, Indonesia menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di 170 kabupaten/kota dan di 30 provinsi, dengan jumlah sebanyak 954 kasus dengan 44 kematian. Perempuan dan anak-anak lah yang paling dirugikan atas kejadian ini.

Pada tahun 1998, memang ada penelitian yang mengatakan bahwa terdapat kemungkinan hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan autis, namun ternyata penelitian tersebut salah dan hanyalah sebuah penipuan. Selama dua dekade, setidaknya terdapat 2 kali KLB campak di Inggris, total 12.000 kasus campak, ratusan rawat inap banyak yang disertai dengan komplikasi dan setidaknya tiga kasus kematian.

Antivaksin adalah bukti bahwa cinta tanpa akal hanya akan melahirkan ancaman. Karena sebagian orang tua yang melarang anaknya divaksin akibat rasa takut dan khawatir anaknya mengalami kelainan seperti autis, kecacatan dan ketakutan lainnya yang tidak didasari oleh  bukti ilmiah. Vaksin memang memiliki efek samping namun sangat jarang terjadi dan pihak pemerintah pun telah mengatur tindakan penanganan sedemikian rupa untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan lebih lanjut. Meskipun begitu, disamping efek yang kemungkinan terjadinya sangat kecil ada manfaat yang lebih besar dalam jangka panjang. Selain itu, para pakar dalam bidangnya telah melakukan penelitian untuk memastikan keamanan vaksin sebelum sampai kepada masyarakat luas.

Terlepas dari pro kontra gerakan anti vaksin sesekali kita harus membuka hati dan pikiran, lalu lebih bijak dalam menerima informasi dan belajar percaya pada fasilitas pemerintah. Kita dengarkan pemaparan orang-orang yang ahli dalam bidangnya dengan pikiran terbuka, dan menelaahnya dengan pandangan ilmiah. Dengan begitu diharapkan perlindungan terhadap penyakit mematikan dapat menjamin kesejahteraan hidup terutama pada ibu dan anak.**(ks01)

ket foto: Kartun anti kartun di Philadelphia, Desember 1894. Medical Library of The College of Physicians of Philadelphia

 

 

 

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kompetisi Logika Matematika di Unika

SEMARANG (kampussemarang.com)- Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Unika Soegijapranata Semarang menggelar  final  “Mathematic Logic Competititon MLC)” ...