Breaking News

Kunjungan Fakultas Pascasarjana Unika Ke Jepang

ket foto: Rombongan Unika berpose bersama dosen Jepang foto dok)

SEMARANG (kampussemarang.com)-Rombongan pejabat program studi, dosen, mahasiswa dan alumni dari Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP), Program Magister Hukum Kesehatan (HUKKES), Fakultas Pascasarjana serta Fakultas Teknik Program studi Teknik Sipil Unika Soegijaparanata belum lama ini melaksanakan kunjungan dan membangun kerjasama dengan Kyoto University Jepang.

Dalam kesempatan tersebut, PMLP Unika Soegijapranata bekerjasama dengan Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES), Kyoto University, kedua belah pihak sedang merancang suatu kerjasama yang mencakup lecturer exchange (pertukaran pengajar) serta penelitian dan publikasi bersama.

Selain dalam rangka mengadakan kerjasama, kunjungan di Jepang bagi PMLP berkaitan dengan kegiatan learning journey. Dalam kegiatan learning journey, PMLP mengamati beberapa aspek seperti pengelolaan perkotaan, pengelolaan sampah, pejalan kaki, transportasi publik dari kegiatan sehari-hari Orang Jepang. Adapun aspek pengelolaan sampah yang diamati baik dari perilaku secara perorangan hingga di tingkat institusi seperti moda transportasi kereta api.

“Sesuai budaya Orang Jepang, apabila ada sampah jatuh siapapun harus mengambil, menyimpan dan membuangnya di tempat sampah. Dari salah satu contoh tersebut, kami sudah memperoleh contoh baik bahwa pengelolaan lingkungan bukan sebatas ucapan ataupun ide tapi sudah diterapkan dalam perilaku. Di tingkat institusi, seperti perusahaan kereta api, ada 2 orang pekerja yang khusus mengambil sampah di lintasan kereta api menggunakan alat khusus” ujar Hotmauli Sidabalok, SH., CN., M.Hum sebagai Sekretaris PMLP Unika.

Lebih lanjjt dikatakannya, terkait aspek management transportasi publik perkotaan, Unika mengamati bahwa Orang Jepang senang naik kereta dan sering dipaksa untuk berjalan karena Orang Jepang memiliki budaya on time sehingga mereka banyak memilih moda transportasi yang tepat waktu seperti kereta api yang bisa diprediksi waktu berangkat dan tibanya. Kondisi juga didukung dengan harga bahan bakar yang mahal dan di waktu padat (rush hour), apabila menggunakan taksi akan dikenakan tarif sangat mahal. Tidak hanya dari aspek transportasi saja, tapi juga ruang-ruang bagi pejalan kaki dibuat sangat leluasa dan bagi Orang Jepang berjalan sudah memiliki arah yang jelas. Misalnya saja, apabila pejalan mengarah ke utara maka semuanya mengarah ke utara. Moda transportasi yang tepat waktu tidak hanya dapat diakses di dalam kota, akan tetapi juga menjangkau semua fasilitas umum, salah satunya bandara yang dapat dijangkau dengan kereta maupun layanan bus. Tidak hanya bagi pejalan kaki, bagi mereka yang berkebutuhan khusus seperti orangtua yang tidak  kuat berjalan jauh telah dipersiapkan fasilitasnya secara matang dan sebelum memasuki tempat wisata seperti Disneyland ataupun museum, orang berkebutuhan khusus akan didata terlebih dahulu. Hal inilah yang bagi kami para dosen PMLP menjadi proses pembelajaran secara factual.

Kunjungi Klinik Berteknologi Modern

Sementara dari pihak Program Magister Hukum Kesehatan juga turut menyertakan 5 orang mahasiswa yang memiliki latar belakang dokter dalam kunjungan ke Jepang.

Dalam kunjungan itu, Program Magister Hukum dan Kesehatan mengunjungi Inul Cancer Immunotherapy Centre yang memiliki konsentrasi dalam bidang penanganan penyakit kanker di Kota Kobe.

“Peraturan di Negara Jepang yang mengatur mengenai metode pengobatan dan tenaga kesehatan sangat ketat dan apabila melanggar dapat dikenakan denda yang sangat tinggi. Klinik yang kami kunjungi sejatinya tergolong pengobatan alternatif tetapi dikembangkan dengan teknologi modern. Berdasarkan hal yang kami amati, tenaga kerja di Jepang sangat menerima kehadiran tenaga kerja asing. Seperti misalnya tenaga dokter asing, berbeda dengan Indonesia yang masih sulit menerima praktek tetap dokter asing, Jepang kami rasa lebih terbuka mengenai hal tersebut” jelas Dr. Endang Wahyati Y, SH., MH sebagai Sekretaris Program Magister Hukum Kesehatan.

“Dari Fakultas Pascasarjana, saya melihat keuntungan dari kunjungan ini adalah reaksi positif dari Kyoto University  yang diwakili oleh Prof. Akihisa Mori dan Prof. Tanaka yang sangat menyetujui mengenai adanya rencana kerjasama ini dan dipilihnya Jepang sebagai destinasi kami karena kami melihat Jepang sangat unggul dalam hal kedisiplinan, ketekunan, dan paling utama mengenai bagaimana mereka menekan polusi udara. Beberapa pengalaman yang saya alami, saya kagum karena beberapa fasilitas publik banyak yang menggunakan sistem yang otomatis, seperti misalnya penyalaan lampu sudah tidak memakai saklar melainkan dengan mode sensor sehingga tidak ada sumber energi yang terbuang percuma.  Dari hal ini, kami memperoleh contoh yang baik mengenai bagaimana orang Jepang memanfaatkan energi secara arif. Begitu pula saat di toilet, ketika toilet di Indonesia masih banyak menggunakan tempat sampah besar hanya untuk menampung tissue, di Jepang hal tersebut tidak bakal ditemui karena tissue sudah dibuat dari bahan yang ramah lingkungan sehingga akan berubah menjadi gel apabila terkena air” tutup Dr. Ir. Lindayani, MP sebagai Dekan Fakultas Pascasarjana Unika. (ks01)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Luluskan 381 Wisudawan:, STEKOM dan STMIK Provisi Wisuda Bersama

SEMARANG kampussemarang.com)- Sekolah Tinggi Elektronika Komputer (STEKOM) Semarang dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) ...