Breaking News

Program IDUKA Tingkatkan Penyerapan SDM Perwira Transportasi Laut di Perusahaan Pelayaran Internasional

ket foto: Direktur Polimarin (foto dok)

 

SEMARANG (kampussemarang.com)- Program IDUKA, “Program Penguatan Hubungan Masyarakat (Humas) Kemitraan Pendidikan Tinggi Vokasi Dengan Industri, Dunia Usaha, Dan Dunia Kerja”, sangat membantu keterserapan sekolah vokasi di dunia indutri.

Program ini untuk menghasilkan berbagai program kerja kreatif di bidang kehumasan yang dapat membentuk citra baik PTV (Perguruan Tinggi Vokasi) terutama terkait kerja sama antara PTV dengan IDUKA. Program ini diharapkan juga dapat menjembatani agar para lulusan sekolah vokasi dapat diterima di dunia industri.

Humas dan Kerja Sama memiliki peran penting dalam meningkatkan kemitraan dunia usaha dan dunia industri. Dalam hal ini, hubungan kemitraan antara Pendidikan Tinggi Vokasi dengan Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja (IDUKA) dapat dibangun melalui peran serta kolaborasi Humas dengan Kerja Sama. Fokus ke depan adalah mampu meningkatkan kesadaran dan sikap positif Mitra IDUKA terhadap PTV sehingga mampu mendorong IDUKA ke jenjang yang lebih serius, yakni menjalin kerja sama dengan PTV.

Menindak lanjuti program tersebut, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) telah melakukan beberapa terobosan baru di antaranya 3 kali melaksanakan seminar online dengan mengundang perwakilan dari dunia industri khususnya di bidang pelayaran di antaranya adalah Capt Akhmad Subaidi MMar GM Benhard Schulte Shipmanagement (BSM) Indonesia, Capt Agus Dwi Warsa MMar dari Fleet Department PT Indobaruna Bulk Transport, Wakil Ketua Umum Bidang Logistics & Supply Chain DPW ALFI Jateng & DIY Suprapto Suwaji, Direktur PT SPS Grup Rory Riyanto. Tri Joko dari PT Janata Marina Indah. Sumarcatur R Budi selaku MSM Training Manager PT Meratus line Surabaya.

Dikemukakan oleh Capt Akhmad Subaidi MMar, GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia, saat ini BSM shipping memanage sebanyak 120 kapal, dengan 700  pelaut. Sebanyak 120 kapal tersebut ada yang milik orang lain dan ada yang dimiliki oleh PT BSM.

“Kami BSM Indonesia fokus mencari pelaut sesuai dengan standart BSM dan menyalurkannya ke pemilik-pemilik kapal, yang tujuannya agar kapal siap beroperasi dan delivery muatan apapun dan kemanapun.  Kami bertugas merekrut dan menempatkan pelaut. Mengembangkan pelaut Indonesia ditempatkan ke kapal-kapal internasional. Dukungan pendidikan vokasi khususnya pendidikan maritim agar para pendidik benar-benar bisa memberikan pengajaran kepada taruna sesuai dengan STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping) sangat penting” ujar Capt Akhmad Subaidi MMar.

Akhmad menambahkan, jika para calon pelaut ini sudah siap maka dunia industri nantinya akan membantu. Industri menginginkan para calon pelaut memiliki kemampuan sesuai standart minimum. Industri membekali para calon pelaut sesuai dengan STCW. BSM yang berdiri sejak tahun 2007 memiliki standar untuk masuk ke pelayaran internasional meski syarat dan standarnya memang tinggi. Hal itu disebabkan jika terjadi kecelakaan, maka  yang terkena imbas tidak hanya kru saja namun juga perusahaan. Walaupun di dunia internasional permintaan pelaut sangat banyak namun tetap mengutamakan kualitas. Sehingga BSM tetap menyeleksi para perwira dengan ketat.

“Selama ini kebanyakan pelaut yang bekerja di perusahaan asing didominasi oleh para pelaut Philipina dan India dikarenakan kemampuan bahasa Inggris mereka relatif lebih mahir. Untuk itulah soft skill sangat perlu sebagai keahlian pendamping. Alasan lain perwira Indonesia sulit bergabung ke industri pelayaran asing dikarenakan tidak ada yang membimbing dan under estimate. Kalau dulu pelaut yang dikirim ke kapal asing paling bawahan, untuk perwira tidak ada. Namun sekarang sebanyak 30% yaitu sekitar 700 orang yang hadir di BSM di atas kapal adalah perwira. Jumlah keseluruhan pelaut di Indonesia sendiri sekarang mencapai 1.300 orang” ujar Akhmad.

Menurut Akhmad, Polimarin memiliki track record bagus sejak 2018 hingga sekarang. Sekarang tinggal melihat capaian dan progres output yang dihasilkan. Jangan sampai mendapatkan teori penuh namun tidak match dengan yg diharapkan oleh industri.  Target dan goal kita harus bisa diterima di perusahaan pelayaran internasional dan jangan sampai hanya diterima di pasar lokal saja.

ket foto: Direktur Polimarin (tengah) bersama Wakil Ketua Umum Bidang Logistics & Supply Chain DPW ALFI Jateng-DIY Suprapto Suwaji (kanan) dan Direktur PT SPS Group Rory Riyanto kiri) saat bersama di kampus Polimarin (foto dok)

 

Menurut Wakil Direktur 1 Polimarin Ario Hendartono SPd MPd, Bridging programe seperti ini sangat diperlukan untuk menjembatani antara dunia indutri dengan pendidikan vokasi, industri akan diuntungkan demikian juga dengan Polimarin dan seluruh pendidikan vokasi khususnya kemaritiman. Semuanya berfikir untuk kemajuan bangsa, slogan sebagai bangsa maritim, slogan sebagai bangsa yang besar harus diwujudkan bersama.

Di sisi lain Direktur PT SPS Grup Rory Riyanto menyatakan bahwa data yang diperoleh dari custom clearence/bea cukai di pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dalam 1 bulan terdapat 30.000 kontainer baik ekspor maupun impor. Kemudian data dari Pelindo, kontainerisasi mengalami kenaikan sebesar 10% tiap tahunnya. Hal inilah yang menjadi potensi bahwa sektor logistik mengalami peningkatan shingga para mahasiswa harus mencari celah agar mampu mengisi kebutuhan SDM di sektor tersebut.

Sementara itu pula Direktur Polimarin Dr Sri Tutie Rahayu MSi menyampaikan tantangan para calon pelaut saat ini tidak hanya di era industri 4.0 saja. Namun industri 5.0 sudah di depan mata sehingga mahasiswa perlu dibekali skill yang memadahi seperti pendidikan karakter agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan utamanya lingkungan kerja dan mereka juga memiliki karakter yang baik yang dapat diterima di dunia kerja. Selain itu pentingnya dari seminar virtual ini agar para mahasiswa kemaritiman khususnya Polimarin dapat beradaptasi dengan teknologi sehingga para mahasiswa siap untuk langsung terjun ketika melakukan praktek laut.

Dirinya menambahkan bahwa saat ini Polimarin menjadi salah satu di antara 4 politeknik di Indonesia yang menerima prosperity fun dari Inggris. Hal ini menjadi langkah yang sangat signifikan bagi input dan output pendidikan vokasi di Indonesia. Terlebih adanya wacana dari Kemdikbud terkait penyetaraan sekolah kejuruan menjadi jenjang diploma II (D2), menurut Sri Tutie, merupakan fast track atau percepatan ke jenjang D3. (Ks01)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hari Ini, Ike Ratnawati SPd MPd Ujian Terbuka Pendidikan Seni S3 Unnes

SEMARANG (kampussemarang.com)- Hari ini Jumat (19/2/2021) mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Pendidikan Seni Pascasarjana Universitas ...