Breaking News

Unika Seminarkan Persoalan Sampah Plastik

ket foto: sejumlah narasumber saat peresentasi seminar (foto dok)

 

SEMARANG,kampussemarang.com- Unika Soegijapranata Semarang menggelar seminar lingkungan hidup “Bahaya Polutan Mikro dan Nano Plastik pada Kehidupan Manusia’ di kampus kawasan Bendan Duwur, Kamis (2/5/2019).

Pembicara utama seminar di antaranya Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang Drs Hartana Subekti MSi, Dr Ir Djoko Suwarno MSi (dekan Fak Teknik Unika), Inneke Hantoro STP MSc (peneliti Fak Teknologi Pangan Unika) dan dr Phenny Porlury MMed Ed (kedokteran Unika).

Para pembicara setuju perlu adanya tindakan nyata dalam mengurangi dan mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia yang disebut sebagai terbesar kedua di dunia. Selain itu perlunya masyarakat membatasi penggunaan plastik untuk keperluan sehari hari, termasuk kantong plastik untuk belanja, juga melakukan upaya upaya pengolahan sampah plastik secara baik.

Menurut Hartana, Kota Semarang sejauh ini sudah cukup bagus melakukan pengelolaan sampah termasuk sampah plastik lewat pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dengan cara sampah ditimbun beberapa waktu lalu menjadi gas metan dan gas metan dipergunakan untuk menghidupkan turbin guna menghasilkan listrik. Lewat hibah dari pemerintah Denmark ini bisa didapat sarana atau mesin mesin PLTSa.

“Dalam 1 sampai 8 tahun ke depan gas metan dari timbunan sampah di TPA kota ini cukup. Selanjutnya mulai tahun depan akan mulai dibangun proses pengolahan sampah yang lebih modern dengan PSEL atau pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Detai Engineering Design atau DED nya dikerjakan tahun 2019 ini” ujar Hartana.

Lebih lanjut menurut Hartana, cara baru nantinya sampah di TPA akan langsung masuk mesin untuk jalankan turbin dan selanjutnya bisa menghasilkan enegeri listrik, tidak perlu nunggu ditimbun lama dulu untuk bisa langsung diproses.

Sementara itu Djoko Suwarno menyatakan kasus plastik sudah jadi kasus global, di antarnya lewat lautan yang bisa tersebar ke mana mana. Banyak plastik di lautan Indonesia beberapa di antaranya ditengarai berasal dari Malaysia, Singapura dan negara tetangga lain. Ini terlihat dari jenis jenis plastik yang ditemukan merupakan plastik kemasan dari berbagai perusahaan di negara tetangga, bukan dari Indonesia.

“Indonesia dituding sebagai negara kedua terbesar sampah karena rata rata di Indonesia belum 100 persen sampah terangkut ke TPA , 30 persen sebagian dikubur, ada yang dibakar, dan dibuang ke sungai. Empatbelas persen dari sampah TPA saat ini jenis plastik yang dulu di bawah 10 persen. Juga sebelum tahun 2000 jumlah sampah oranik 70 persen dan unorganik termasuk plastik 30 persen. Sekarang organik 60 persen dan  40 persen unorganik salah satunya plastik yang naik terus jumlahnya. Ada yang perlu kita kelola untuk optimalkan semua sampah diangkut ke TPA. Dari infrastruktur bisa memungkinkan diangkut TPA. Sampah ke kontener selama ini masih terurai belum dipadatkan sehingga bisa dipadatkan dan mengurangi jumlah sampah yang tidak terkelola” ujar Djoko. (ks01)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

597 Mahasiswa Unimus Jalani BAPS

  SEMARANG (kampussemarang.com)- Sebanyak 597 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) yang akan diwisuda Selasa mendatang ...