Breaking News

Unwahas-Kadin Jateng “Teken” MOU

ket foto: (kiri-kanan) Prof Noor Achmad, Khanifah, Kukrit, dan Mudzakir Ali saat menunjukkan MOU usai ditandatangani (foto dok)

 

SEMARANG – Fakultas Ekonomi Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang menggelar “Seminar Nasional Industry and Tourism 4.0” di Gedung Fakultas Kedokteran Unwahas, kampus Gunungpati Sabtu (20/7/2019).

Acara yang dibuka Wakil Rektor I Unwahas Dr H Mudzakir Ali MA ini menampilkan pembicara utama Prof Dr H Noor Achmad MA (guru besar Unwahas, anggota komisi XDPR RI, Dewan Syariah Nasional), Kukrit Suryo Wicaksono (Ketua Kadin Jateng) dan Drs Sinoeng Noegroho Rachmadi MM (Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jateng).

Dekan Fakultas Ekonomi Unwahas Khanifah SE MSi Akt CA menyatakan seminar bermanfaat bagi mahasiswa, terkait pengetahuan tentang industri halal dan pariwisata langsung dari praktisi dan akademisi. Menurutnya, urusan halal saat ini tidak hanya menyangkut persoalan umat Islam semata tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Mudzakir Ali, 30 tahun lalu halal “hanya” menyangkut persoalan makanan saja. Saat ini halal tidak hanya tentang makanan, tetapi juga fashion, turisme, farmasi, logistik dan lain lain. Global Muslim Travel Index menyebutkan besarnya dana yang beredar di turisme halal ini. Tahun 2019 ini diperkirakan mencapai 145 juta dolar, tahun 2020 diprediksi 166 juta dolar dan tahun 2026 diprediksi mencapai 300 juta dolar.

“Saat ini mulai ada aturan semua produk yang beredar di Indonesia harus memiliki sertifikat halal dan mulai Oktober 2019 ketentuan tersebut diwajibkan” ujar Mudzakir Ali.

Sementara itu Kukrit Suryowocaksono menyatakan saat ini diperlukan kreativitas dan inovatif dalam berbisnis. Untuk menjadi wirausaha sukses harus tahu pula menghadapi kegagalan. Dan tidak ada “sekolah” yang mengajari tentang keluar dari kegagalan.

Potensi turisme di Jateng, tambah Kukrit, sangat besar. Untuk menjadikan Jateng maju secara ekonomi maka Jateng harus menggenjot perkembangan dan pembangunan bidang turisme. Cara ini dianggap cara paling gampang meningkatkan ekonomi Jateng, terlebih dukungan infrastruktur sudah sangat baik berupa sarana jalan tol yang sudah nyambung Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo . Misalnya Semarang Solo bisa ditempuh kurang dari satu jam. Tinggal mengoptimalkan potensi turisme Jateng.

“Bila sarana prasarana memadai, turis akan banyak datang dan mereka akan investasi membuka toko, pabrik, resto dan lain lain. Ujungnya akan banyak tenaga kerja lokal bisa bekerja dan menjadikan daya beli masyarakat ada sehingga dagangan para pedagang bisa laku pula. Belum lama ini ibukota Jateng, kota Semarang, meraih pengharaan sebagai kota terbaik se Indonesia sehingga sudah ada modal untuk pengembangan bidang turisme, termasuk turisme halal” ujar Kukrit.

Menyangkut tentang Halal Tourism, Kukrit menyatakan kehidupan Islami saat ini sudah menjadi gaya hidup. Hijab yang menjadi tren di masyarakat sebagai lifestyle atau gaya hidup, tidak lagi jadi identitas Islam semata. Namun kenyataannya saat ini Malaysia menempati posisi pertama, kemudian posisi 2 sampai 9 ditempati negara negara Arab dan terkait dengan persoalan halal dunia, Indonesia menempati posisi 10. Sehingga Indonesia wajib belajar dari Malaysia terkait “kehalalan” tersebut.

“Cina tiap tahun mengirim 150 juta turisnya ke seluruh dunia, tingkat potensi turis Cian termasuk turis Islamnya sangat besar. Sehingga perkembangan industri pariwisata Indonesia yang menuju ke “halal’ besar.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula MOU antara Unwahas dengan Kadin Jateng yang isinya kerjasama bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. MOU menyangkut pengembangan dunia usaha dengan industri. Kadin bahkan menawarkan akan memberi pelatihan pada mahasiswa Unwahas tentang entrepreneurship, tentang industri pariwisata dan tentang halal.

“Turisme 4.0 sudah mulai dilakukan Indonesia dengan penekanan ke digital. Potensi turisme 4.0 arahnya ke mileneal yang memiiki potensi besar ke turisme 4.0. Lebih dari 50 % wisatawan ke Indoensia dari kalangan mileneal sehingga turisme 4.0 siap tidak siap, mau tidak mau harus segera dilakukan Indonesia. Jateng memiliki potensi luar biasa dan pusat industri besar Indonesia banyak yang ada di Jateng misalnya rokok, tekstil, percetakan, karoseri, dan jamu. Jateng juga tercatat memiliki UKM terbayak di Indonesia, 3,5 juta UKM” ujar Kukrit.

Lebih lanjut menurut Kukrit, masa depan Indonesia miliki genereasi muda yang siap jadi wirausaha, pecinta solusi bukan orang yang bikin trouble maker.

Sedangkan Prof Dr Noor Achmad MA menyatakan pemerintah saat ini punya banyak ide besar untuk meningkatkan syariah antara lain dibentuknya Komite Nasional keuangan Syariah (KNKS) dengan Presiden Jokowi dan Cawapres terpilih Makruf Amin sebagai pimpinanya. Juga dibentuk masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MESI) dan lain lain.  (ks02)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tiga Mahasiswa FBS Unika Studi ke Taiwan

  SEMARANG (kampussemarang.com)- Baru-baru ini tiga mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata Semarang ...