SEMARANG (kampussemarang)-
“25 Tahun Reformasi, Quo Vadis Ayu Utami” merupakan tema diskusi buku yang diselenggarakan oleh Taman Indonesia Kaya bekerja sama dengan Komunitas Utan Kayu.
Membaca karya sastra di ruang publik merupakan salah satu cara mencintai budaya Indonesia dan suatu upaya meningkatkan minat baca di negeri ini. Kegiatan diskusi buku ini terbuka untuk umum dan gratis, diselenggarakan Kamis, 11 Mei 2023 Pukul 19.00 WIB di Taman Indonesia Kaya, Semarang.
Bulan Mei tahun ini merupakan peringatan 25 tahun peristiwa Reformasi. Reformasi, yang telah
melahirkan banyak perubahan, dipicu insiden penembakan terhadap mahasiswa Trisakti pada 12
Mei 1998. Persis pada hari itu pula Ayu Utami meluncurkan novel Saman, yang mendobrak tabu-
tabu kesusasteraan di masanya, terutama dalam hal seks, politik, dan agama. Novel Saman
menjadi suara zaman dan mendapatkan penghargaan dalam dan luar negeri. Novel ini telah
dicetak ulang 37 kali dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 10 bahasa.
Ayu Utami, di masa Orde Baru, adalah wartawan dan aktivis. Ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis
Independen, yang ketika itu dianggap membangkang pemerintah, dan menyebabkan ia dilarang
menjadi wartawan oleh pemerintah Soeharto. Karena itulah, Ayu Utami menulis novel Saman, yang berlatar masa akhir Orde Baru. Novel ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Dua puluh lima tahun sejak Saman, Ayu Utami telah melahirkan banyak karya. Larung (2001) sebagai kelanjutan Saman, dicetak 8 kali. Bilangan Fu (2008), dicetak 4 kali, berlatar peningkatan intoleransi agama di masa Reformasi. Novel ini dilanjutkan dengan seri Bilangan Fu yang, antara lain berjudul Manjali dan Cakrabirawa (2010), Lalita (2012), dan Maya (2013). Ada juga karya-karya
seperti Si Parasit Lajang (2013), Cerita Cinta Enrico, Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013), Anatomi Rasa (2019) dan masih banyak lagi.
Ayu Utami banyak meraih penghargaan untuk kerjanya dalam dunia sastra. Ia juga memberi
apresiasi kepada penulis pemula melalui sayembara Hadiah Sastra untuk Pemula “Rasa” yang
dimulai sejak 2022. Melalui karya-karyanya, Ayu Utami telah memberikan kita beragam
pengalaman baru dalam membaca dan melihat karya sastra Indonesia.
Novel-novel Ayu Utami
berbicara akan banyak isu yang meliputi reformasi, seksualitas dan keperempuanan, hingga apa
yang kemudian ia tawarkan sebagai spriritualisme kritis, yaitu bagaimana kita sebaiknya melalui kehidupan beragama tanpa kehilangan nalar kritis.
Membaca Ayu Utami kita membaca sejarah Indonesia masa Orde Baru dan Reformasi. Dengan situasi sosial, politik dan budaya hari ini, apa yang hendak ditempuh Ayu Utami?
Diskusi ini diselenggarakan dengan rancangan berikut: Diskusi Buku “25Th Reformasi, Quo Vadis Ayu Utami” , Kamis, 11 Mei 2023 – Pukul 19.00 – 21.00 WIB di Taman Indonesia Kaya, Jl. Menteri Supeno No.11 A, Semarang. Pembicara: Ayu Utami, Angelika Ryandari (Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unika Soegijapranata), Christina M. Udiani (Editor Senior & Manajer Produksi KPG) dengan Moderator Alif Iman (Ketua Gerakan Indonesia Kita).
Diskusi Buku “25Th Reformasi, Quo Vadis Ayu Utami” terselenggara atas kerja sama antara Taman Indonesia Kaya dan Komunitas Utan Kayu, serta didukung oleh Kepustakaan Populer
Gramedia, Ruang Rabu PLMP, Unika Soegijapranata, Gerakan Indonesia Kita, Dewan Kesenian Semarang, Hysteria Collective, Bukit Buku, Sonora FM Semarang, Suara Merdeka dan www.indonesiakaya.com (ks01)
