
Rektor saat dialog dengan mahasiswa pada acara BAPS
SEMARANG (kampussemarang)- Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Baitul Arqam Purna Studi (BSPS) ke-37 di kampus Kedungmundu, Ahad (19/6/2022).
Kegiatan berupa pembekalan bagi 393 mahasiswa yang akan diwisuda ini dihadiri Wakil Rektor III Dr Samsudi Raharjo MT MM, Ketua Lembaga Studi Al Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) dan Mata Kuliah Umum Dr Rodhi Wasono MSi, para dekan serta kepala biro di lingkungan Unimus.
Ketua LSIK dan MKU Dr Rodhi Wasono MSi menyatakan pembekalan mahasiswa di bidang Islam dan Kemuhammadiyahan dilakukan saat mulai masuk sebagai mahasiswa lewat mentoring dengan 7 kompetensi, dilanjutkan mengikuti mata kuliah AIK 1 sampai 3, ditutup kegiatan BAPS ini
“BAPS ini sebagai bentuk pengkaderan dan pemberian bekal tambahan serta stimulus mahasiswa untuk nantinya terjun ke masyarakat. Tujuan BAPS sebagai “finishing touch” AIK , membekali soft skill, beri bekal perilaku profesional kepada mahasiswa” ujar Dr Rodhi.
Kegiatan BAPS, ujar Dr Rodhi, wajib diikuti tiap calon wisudawan serta nantinya menjadi Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Kegiatan BAPS diisi oleh Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd serta para instruktur dosen LSIK Unimus.
Wakil Rektor III Dr Samsudi Raharjo MM MT saat pembukaan menyatakan sejak masuk sebagai mahasiswa Unimus sudah mendapat mentoring dan kurikulum BAPS supaya lebih tangguh di masyarakat nantinya.
“Masuk Unimus mahasiswa baru beradaptasi dari siswa ke mahasiswa, menjadi manusia dewasa mandiri. Juga beradaptasi sosial moral intelektual. Juga dibekali menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab sesuai kompetensinya” ujar WR III.
Lebih lanjut menurutnya, adaptasi sosial dilakukan melalui cara akademis dan non akademika, kerjasama, kolaborasi serta saling mengingatkan.
Adaptasi moral diajarkan dan dilakukan mahasiswa sejak masuk kuliah sampai lulus sehingga nantinya setelah lulus bisa bekerja secara dan tidak korupsi.
Sementara itu dalam pembekalannya, Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd menyatakan sebagai alumni, alumni nantinya ada di tengah masyarakat sesuai ilmu masing masing.
Calon wisudawan, ujar Rektor, memiliki 3 fungsi, pertama tetap sebagai akademisi karena dia lulusan sarjana. Ciri akademisi tetap sebagai pembelajaran sesuai bidang ilmu, berpikir kritis dan lain-lain. Jadi rujukan dalam berbagai aspek, termasuk agama.
Kedua sebagai warga masyarakat. Alumni akan bergaul dan diharapkan suka menolong pada siapapun. Tanpa melihat suku bangsa, agama, ras karena bagian tugas kemanusiaan.
Ketiga sebagai warga negara yang berkewajiban ikut berkiprah dalam pembangunan bangsa dan negara. Juga sebagai warga milleneal dengan ciri IOT ( internet of things).
Ciri masyarakat kampus dengan era digital yaitu democratitation of knowledge and sciences. Orang tanpa pandang gelar jabatan dan penduduk peroleh akses yang sama ke teknologi sepanjang dia aktif akses internet. Sumber iptek saat ini tersebar luas di internet.
“Sehingga orang tua yang tidak piawai internet maka akan tersisih. Muda tua tidak ada bedanya, yang aktif ikuti perkembangan lah yang akan leading” ujarnya. (Ks01)
