Kolom: Jumatan
Oleh: Prof Dr H Masrukhi MPd.
Dalam sebuah kajian keIslaman minggu pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gunungpati Kota Semarang, ada hal menarik untuk disimak, yaitu perbincangan sekitar cecak dan nyamuk. Pengajian minggu pagi ini rutin dilaksanakan (mungkin juga seperti di tempat lain), sebagai upaya untuk meningkatkan ghiroh keimanan kita, agar selalu terasah dengan baik. Sudah tentu di masa pandemi ini dilaksanakan secara daring, kebetulan dengan menggunakan apliasi zoom.
Ada hikmah dari pengajian secara daring ini yaitu peserta lebih luas dan lebih banyak oleh karena tidak terkendala lokasi geografis. Jamaah dari sekitar gunungpati Semarang sudah jelas, ada yang dari Magelang Purwokerto, Tegal, Magetan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Sumatera, Malaysia, dan tempat lain saya lupa. Sudah setahun ini memang Masjid Attaqwa PCM Gunungpati melaksanakan pengajian secara daring.
Adalah Dr. Khaerudin, MT Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) yang menjadi pembicara. Secara berkelakar beliau menyampaikan interelasi antara cicak dan nyamuk. Cicak itu makannya nyamuk, hanya saja cicak selalu menempel di dinding dan nyamuk selalu beterbangan. Nyamuk sudah tentu memiliki mobilitas pergerakan yang tinggi ketimbang seekor cicak yang hanya berlarian dari satu tempat ke tempat lain dengan cara menempel di dinding. Akan tetapi tetap saja cicak itu dapat memakan nyamuk, meskipun secara logika nyamuk mestinya punya kesempatan lebih banyak untuk menyelamatkan diri. Dengan kemampuan terbangnya ke-sana ke-mari, nyamuk dapat mempecundangi cicak sedemikian rupa daripada hanya sekedar menjadi mangsanya. Akan tetapi begitulah adanya, itulah ketentuan Allah SWT yang maha kuasa.
Hikmah yang terkandung dalam cerita itu adalah masalah rizki, yang setiap orang sudah disiapkan sedemikian rupa oleh Allah untuk menjadi bekal kehidupan di dunia.
Di dalam ajaran Islam dijelaskan terdapat dua macam rizki, yang keduanya akan selalu menyertai kehidupan manusia di muka bumi ini.
Pertama rizki yang sifatnya umum, yaitu berupa segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan kita. Dalam konteks rizki demikian, dijumpai ada harta, rumah, kendaraan, kesehatan, dan selainnya, baik berasal dari yang halal maupun haram. Rezeki jenis ini Allah berikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir.
Banyaknya pemberian jenis rezeki yang pertama ini tidak menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Begitu pula sedikitnya rezeki dunia yang Allah berikan kepada seseorang tidak menunjukkan kehinaan orang tersebut.
Dalam Al Qur’an Allah menegaskan “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” . (QS. 89 :15-16)
Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menjelaskan jika Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya adalah untuk menguji mereka dengan rezeki tersebut, bukan semata-mata bentuk pemuliaan. Demikian pula sebaliknya. Jika Allah memeberinya cobaan dengan menyempitkan rezekinya, sebagian orang menyangka Allah sedang menghinakannya. Persangkaan-persangkaan itu keliru. Allah memberikan harta kepada orang yang Allah cintai dan kepada orang yang tidak Allah cintai. Allah juga menyempitkan harta terhadap orang yang Allah cintai maupun orang yang tidak dicintai-Nya. Sesungguhnya semuanya bersumber pada ketaatan kepada Allah pada dua kondisi tersebut (baik ketika mendapat rezeki yang luas maupun rezeki yang sempit). Jika seseorang kaya (mendapat banyak rezeki harta) dia bersyukur kepada Allah dengan pemberian tersebut, dan jika miskin (sempit rezeki) dia bersabar.
Kedua, rizki yang bersifat khusus yaitu segala sesuatu yang diperoleh seseorang yang kemudian menopang seseorang untuk semakin dekat dengan Tuhannya.Rezeki jenis ini sudah tentu tidak hanya berupa harta. Bisa juga berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki halal yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah. Maka jenis rizki inilah yang Allah berikan khusus kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Inilah rezeki yang hakiki, yang menghantarkan seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dunia akherat. “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya “ (QS. 65:11).
Kerapkali dalam keseharian kita dicemaskan oleh suasana yang tidak menentu; pekerjaan yang sulit, dagangan yang tidak laku hasil panen yang gagal, atau pekerja kantor cemas akan karirnya tidak naik, dan sebagainya. Kecemasan ini sudah tentu manusiawi oleh karena semua orang pasti berkeinginan untuk hidup sukses dan berkecukupan. Akan tetapi yakinlah bahwa Allah sudah menyediakan potensi rizki secara memadai, sepanjang kita tetap mau berikhtiar, bekerja dengan sungguh-sungguh. Ingatlah bahwa seekor cicak yang selalu menempel di dinding pun tetap diberikan rizki berupa nyamuk yang selalu beterbangan dan tidak hidup menempel di dinding. Maka siapakah yang mendekatkan posisi sang nyamuk dengan mulut sang cicak agar bisa dimakan, adalah sang maha pemberi rizki Allah swt.
Nabi Muhammad SAW memberikan pedoman berdoa meminta rizki kepada Allah SWT sebagai berikut “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322). ***
*) Penulis adalah Guru Besar PKn Unnes dan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).
