
Oleh :Muslimah SSi MM Apt **)
SEMARANG (kampussemarang.com)- Jumlah penduduk miskin di kota Semarang tahun 2018 sebesar 73.650 jiwa (4,14 persen). Pandemi Covid-19 meningkatkan jumlah kemiskinan dan pengangguran. Padahal dalam 5 tahun ini, pemerintah terbilang sukses untuk menekan angka kemiskinan dan penganguran. Namun hadirnya Covid-19, menekan semua perekonomian di berbagai negara.
Menghadapi era new normal atau sesuatu yang tidak biasa dihadapi karena adanya pandemi COVID-19, dunia pendidikan menghadapi dilema sistem pembelajaran yang berangkat dari tradisional menjadi digital. Presiden Joko Widodo mengumumkan untuk melakukan segala kegiatan di rumah seperti Work From Home (WFH) dan Study From Home (SFH).
Kebijakan pendidikan dalam masa pandemi membuat instansi pendidikan baik tingkat dasar sampai perkuliahan harus bergerak cepat dalam memulai pembelajaran digital. Hal ini mengubah kebiasaan siswa yang biasanya produktif di sekolah menjadi ‘kaum rebahan’ yang cenderung menghabiskan waktu berselancar di internet.
Pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu tetapi yang lebih penting merubah perilaku untuk membentuk karakter. Pembelajaran dari rumah saat pandemi merupakan bagian dari pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yang menyatakan pusat pendidikan itu ada 3 yaitu rumah, sekolah dan masyarakat. Bapak Pendidikan ini juga mengatakan setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Sehingga di tengah pandemi, orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Pendidikan di Era New Normal sangat berbeda dengan sebelumnya. Oleh sebab itu, harus memiliki cara dan strategi baru. Tema merdeka belajar harus autentik, punya rasa ingin tahu, dan motivasi. Ketika anak belajar dari rumah sebenarnya imajinasi banyak yang muncul dan kita harus memberikan ruang serta memberikan dorongan motivasi karena merdeka belajar akan melahirkan manusia kreatif dan ini yang kita butuhkan.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas ada sebuah pertanyaan besar. Akankah Ngatini (nama samaran mewakili murid sekolah) bisa mendapatkan kesempatan MERDEKA BELAJAR DI ERA NEW NORMAL??. Hal ini terkait dengan sarana dan prasarana pendidikan yang harus di penuhi sebagai berikut :
1.Fasilitas pembelajaran daring membutuhkan alat teknologi berupa laptop, hp, kuota internet dan listrik yang mencapai pelosok desa.
2.Siswa belum terbiasa belajar daring dan belajar mandiri.
3.Sumber bacaan buku belajar di rumah yang minim.
4.Anak memiliki energi dan semangat ketika belajar bersama temen-temennya
5.Minimnya SDM yang “melek” teknologi baik dari segi guru maupun siswa.
6.Fasilitas sekolah yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan belajar yang sesuai protokol kesehatan.
7.Masa pembelajaran via daring sampai kapan berakhir tidak ada kepastian.
8.Kemampuan orang tua dalam mendampingi siswa belajar sangat minim terutama bagi orang tua yang ke luar rumah untuk bekerja tidak ada waktu untuk mendampingi anaknya belajar via daring di rumah.
Setelah melihat sarana prasarana di atas yang harus terpenuhi berat rasanya bagi Ngatini mencapai impian MERDEKA BELAJAR. Apalagi ditunjang dengan kondisi ekonomi yang masuk kriteria miskin, Ortu Ngatini terkena PHK dampak COVID 19. Sebagian besar kesempatan MERDEKA BELAJAR bisa didapatkan pada siswa yang Ortunya mampu dari segi ekonomi. Sekolah di pedesaan pun ada sebagian yang belum mampu melakukan pembeljaran via daring karena masalah tersebut diatas.
Yuk simak tips dari penulis agar Ngatini bisa terus MERDEKA BELAJAR di era new normal sebagai berikut:
1.Menggunakan Hp orang tua dalam pembelaaran daring.
2.Ortu wajib meluangkan waktu bagi anaknya dan menjadi guru di rumah.
3.Sekolah jika tidak mampu via daring dapat mendatangi rumah siswa secara berkelompok dengan mengajak belajar bersama dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
4.Siswa dapat memanfaatkan media Televisi terutama dari TVRI untuk mendapatkan materi pembelajaran sekolah.
5.Agar tubuh tetap fit dan fresh siswa diwajibkan untuk OLGA, bersepeda dan kegiatan lainnya yang menggerakkan fisik sehingga terjadi keseimbangan dengan kegiatan non fisik berfikir dan lainnya.
Demikian sedikit tips agar Ngatini dan Ngatini yang lain di seluruh kota Semarang terus semangat belajar di Era New Normal meski dengan keterbatasan dalam meraih cita-cita yang diharapkan. (ks01)
Muslimah SSi MM Apt
(Penulis adalah Dosen Fak. Kedokteran UNIMUS, Mhs S3 Ilmu Farmasi UGM0
Email : muslimah@unimus.ac.id
