Site icon Kampussemarang.com

BONUS NYAWA SAAT TERPAPAR COVID 19, AKU HARUS KUAT

(ilustrasi)

 

Tulisan Opini Oleh : Dr Apt. Muslimah, S.Si, MM, 

Dosen Fak. Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) 

Email  : muslimah@unimus.ac.id

 

Kisah nyata ini saya tulis dengan maksud saling menguatkan bagi pasien COVID-19 yang lagi menjalani pengobatan isolasi di rumah sakit  maupun isoman( isolasi mandiri) di rumah. Awalnya badan saya terasa lemees terus menerus, badan pegal pegal, suhu tubuh yang panas, menggigil dan sedikit batuk. Biasanya saya buat istirahat dan olga sembuh ini kok tidak sembuh terjadi seminggu sebelum saya di rawat inap. Hari senin 14 Desember 2020 tubuh tidak bisa diajak kerjasama lagi akhirnya di tes PCR di RSUD Sultan Fatah Karangawen, dilanjutkan rawat inap sebagai pasien biasa tanpa protocol COVID-19. Hasil tes PCR keluar hari selasa 15 Desember 2020 dan dinyatakan positif dan terasa tersambar petir mendengarnya. Karena RSUD ini tidak melayani pasien COVID 19 akhirnya mencari rujukan RS yang masih ada kamar, ketemulah RSUD Sunan Kalijaga Demak.

Disinilah perjuangan pengobatan yang membuat depresi dan protokol terapi yang keras dimulai. Selasa malam 15 Desember 2020, saya dirujuk dengan naik ambulans menuju RSUD Sunan Kalijaga, sudah tidak karuan perasaan di dalam ambulan yang berbunyi dari RSUD Sultan Fatah karangawen Demak menuju RSUD Sunan Kalijaga Demak, perasaan sebagai atau seperti orang meninggal saya rasakan dengan didampingi suami yang saling menguatkan. Dari awal sudah banyak suara yang melarang mengikuti protocol terapi COVID 19, karena tubuh ini butuh perawatan supaya sembuh niat saya bulatkan terus, apapun rintangan akan saya hadapi demi kesembuhan. Sesampai di RSUD Sunan Kalijaga inilah mulai isolasi di sebuah ruangan. Sudah tidak bisa ketemu saudara, suami dan anak anak pada selasa malam. Langsung di lanjutkan dan diinjeksi lewat infus dengan berbagai macam obat obatan untuk mendukung kesembuhan saya. Malam itu saya kecapaian dan tertidur dalam infus yang sedikit membuat saya menjadi lebih segar fresh karena kebutuhan gizi dan asupan elektrolit terpenuhi.

Hari ke dua alhamdulilah bisa mulai bisa adaptasi diri, bisa mandi, ganti baju sendiri dan tidak merepotkan perawat, memanggil perawat hanya pas infus habis saja.  Selama di rawat selama 6 hari yang menemui saya tidak ada dokter yang visite, hanya perawat menanyakan keadaan kondisi saya untuk selanjutkan di buatkan terapi pengobatan dengan data lab dan data data lain yang diinput oleh perawat. Agar supaya tidak bosan sengaja saya bawa laptop untuk mengerjakan revisi habus ujian tertutup S3 UGM, alhamdulh sedikit kesibukan ini bisa mengusisr kejenuhan dan tingkat stress karena sendirian di RS. Mengaji, sholawatan dan murotal Al quran saya perdengarkan dari HP saya untuk membuat suasanan adem ,ayem dan menambah kekuatan doa supaya cepat sembuh. Dalam hal makanan hari Kamis sudah mulai bosan karena makanan yang diulang. Saya kontak orang rumah untuk bawain makanan rumah yang saya inginkan baru dibawakan hari Sabtu siang.

Jam 15.30 saya melihat jenazah COVID-19 melewati kamarku , terasa seperti merasakan bagaimana jika yang di dorong tadi saya dan mengharuskan saya harus bertahan di sini tanpa tahu kapan bisa pulang.  Kabar gembira saya dengar jam 16.00 dan  diijinkan pulang. Terasa seperti kejatuhan bintang di siang bolong, Amiin ya Allah terimakasih doaku telah terkabulkan, bergegas telp orang rumah untuk menjemput pulang. Dan bisa keluar dari rumah sakit sekitar pukul 20.00 karena masih banyak persiapan obat yang dibawa pulang dan administrasi RS. Alhamdulih semua pengobatan gratis dan dilanjutkan ISOMAN Isolasi Mandiri di rumah selama 14 hari dengan minum obat yang sudah dibawakan dari rumah sakit.

Dari pengalaman di atas dapat memberi masukan dan saran bagi pihak rumah sakit, pasien, tenaga medis/perawat, pasien COVID-19 dan masyarakat/keluarga pasien sbb :

  1. Bagi RS perlu dibentuk tim motivator untuk menguatkan mental pasien covid dari RS agar pasien merasa nyaman dan kuat terus mengikuti perawatan protokol COVID-19 sampai selesai dan meminimalis depresi stress. Dokter sebaiknya bisa hadir langsung menemui pasien secara berkala agar terapi yang diberikan maksimal.
  2. Bagi pasien supaya mengikuti perawatan sampai selesai, semoga dengan kenyamanan keimanan, hati yang tenang dan dukungan keluarga melalui video call ,telp dll bisa menguatkan mental pasien COVID-19 dan tingkat stress pasien menjadi berkurang. Selama di ruang isolasi pasien agar mengisi waktu luangnya dengan kegiatan ibadah dan kegiatan lain yang membuat pasien tidak jenuh dan bosan. Pada akhirnya meningkatkan keimanan dan kedekatan pasien dengan Allah SWT.
  3. Bagi perawat dan tenaga kesehatan yang menangani perawatan pasien COVID-19 bersabar, terutama dalam melakukan tindakan medis seperti menyuntik dll, pasien diberikan penjelasan tentang manfaat dari tindakan medis yang dilakukan. Karena banyak aktivitas yang harus dilakukan oleh tenaga medis sehingga menjadi kelelahan yang mengakibatkan perawatan ke pasien tidak maksimal. Keadaan seperti sebaiknya perawat harus istirahat dulu. Pengalaman saya pribadi waktu di diambil darah karena perawat kecapaian tidak didapatkan darah. Akhirnya banyak tusukan yg menyebabkan luka di kulit saya dan saya suruh istirahat. Akhirnya digantikan perawat lainnya. Alhamdulih bisa diambil darahnya karena ditangani oleh tim medis yang tepat.
  4. Bagi masyarakat dan keluarga untuk tidak mendiskriminasikan pasien COVID 19, memberi dukungan doa dan support mental agar kuat dalam menjalani terapi.

Demikian sedikit tips dan pengalaman pribadi dari penulis yang terpapar

COVID 19, semoga bermanfaat..Amiin YRA.****

Muslimah SSi MM Apt