Site icon Kampussemarang.com

Inovasi  Mahasiswa Unimus: Olahan Jagung dan Bawang Merah Menjadi Produk Inovatif Yogurt dan Pasta 

SEMARANG (kampussemarang.com)- Mobilitas masyarakat yang semakin komplek, menuntut pemenuhan kebutuhan primer khususnya bidang pangan yang semakin cepat, noveltif dan inovatif. Sumber daya alam  lokal setiap daerah di Indonesia menjadi potensi yang luar biasa dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Salah satunya adalah jagung dan bawang merah. Desa Ringinarum Kendal merupakan wilayah yang memiliki sumber daya alam jagung dan bawang mereh cukup melimpah. Jagung yang tergolong serealia sebagai sumber karbohidrat diolah sebagai nasi dan makanan ringan lainnya. Potensi gizi dan warna-warni jagung dari kuning, ungu, merah, putih merupakan komponen potensial untuk dikembangkan menjadi produk fungsional berupa minuman fermentasi seperti yoghurt.

Teknologi sederhana sangat aplikatif dikembangkan di masyarakat dalam pembuatan minuman fermentasi dengan bahan jagung ini. Yoghurt atau susu fermentasi telah cukup familier di masyarakat sebagai minuman kesehatan. Jagung khususnya yang masih muda dapat menjadi alternatif bahan baku pembuatan minuman fermentasi atau dikenal dengan soygurt . Produk ini memiliki keunggulan selain sebagai minuman probiotik, juga kaya akan komponen fungsional lainnya, yang berasal dari betakaroten atau pigmen lain dari jagung.

Produk soygurt Tidak hanya menawarkan pengalaman rasa yang unik dan khas Nusantara, namun  juga membawa misi besar: memberikan nilai tambah bagi petani jagung lokal.

Produksi soygurt tidak membutuhkan peralatan yang mahal, cukup dengan peralatan di rumah tangga.

Jagung yang dulu identik dengan pakan ternak,  atau sekadar pengganti nasi, kini punya tempat baru di industri pangan modern. Inovasi ini menjadi peluang untuk diversifikasi pengolahan pangan dan pengayaan jenis produk pasar, memajukan UMKM, dan menciptakan produk dengan bahan baku lokal yang punya ciri khas Indonesia.

Selain jagung Desa Ringinarum kaya akan bawang merah. Saat ini harga bawang merah fluktuatif naik dan turun. Salah satu yang harus diperhatikan dari komoditas ini adalah memiliki karakteristik perishable atau mudah rusak.  Beberapa olahan bawang merah telah tersedia, namun demikian sentuhan teknologi sederhana dalam membuat inovasi pengolahan bawang merah menjadi produk pasta perlu diintroduksikan ke masyarakat. Salah satu ciri masyarakat modern adalah produk yang ready to eat dan ready to use.

Oleh karenanya produk pasta bawang merah memiliki potensi pasar yang cukup tinggi. Sebagaimana soygurt, pengolahan pasta bawang merah cukup menggunakan peralatan di rumah tangga. Sehingga kedua produk ini sangat mudah untuk diimplementasikan oleh masyarakat Desa Ringinarum Kendal.

PPK Ormawa Hipatepa Unimus menggandeng masyarakat Desa Ringinarum untuk mengimplementasikan Teknologi Tepat Guna pengolahan soygurt dan pasta bawang merah. Ketua PPK Orwama Cinta Amalia menuturkan bahwa Implementasi Teknologi Tepat Guna ini akan berdampak tidak hanya pada peningkatan dan penguatan ketrampilan masyarakat, namun akan dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Di tengah tantangan global yang kian meresahkan seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ketergantungan impor, Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi besar yang terlalu lama tersembunyi berupa kekayaan komoditas lokal. Desa Ringinarum, sebuah kawasan agraris di Kabupaten Kendal, adalah salah satu bukti nyata bahwa inovasi bisa tumbuh subur di tengah kesederhanaan.

Dari ladang-ladang jagung dan petak-petak bawang merah, lahirlah dua terobosan pangan yang layak mendapat perhatian lebih: yogurt berbahan dasar jagung dan pasta bawang merah.

“Mungkin terdengar tidak lazim, tapi justru di situlah kekuatannya. Yogurt jagung adalah langkah berani keluar dari kebiasaan. Dalam dunia produk fermentasi yang  selama ini didominasi oleh rasa buah impor seperti stroberi, blueberry, atau mangga, kehadiran rasa jagung lokal membuka ruang baru dalam selera konsumen. Tidak hanya menawarkan pengalaman rasa yang unik dan khas Nusantara, yogurt ini juga membawa misi besar: memberikan nilai tambah bagi petani jagung lokal” ujar Cinta Amalia.

Transformasi produk inovatif di Desa Ringinarum tidak hanya menjadi bukti kreativitas mahasiswa, tetapi juga dirancang untuk mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak. Dinas Pertanian siap membantu dalam penyediaan pendampingan teknis, pembinaan budidaya jagung dan bawang merah, serta teknologi pascapanen agar hasil panen lebih optimal. Dinas Perdagangan berperan memberikan akses pasar, pelatihan pemasaran, serta membantu distribusi produk yogurt jagung dan pasta bawang merah.

Beberapa mitra PPK Ormawa Himatepa  Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) telah mengkonfirmasi  dukungan  penguatan kelembagaan masyarakat melalui pembinaan kelompok usaha, sedangkan Dinas UMKM turut memberikan bimbingan mengenai legalitas usaha, pengurusan izin edar, hingga pelatihan pengembangan kapasitas bisnis. Dalam ekosistem ini, Ormawa HIMATEPA UNIMUS berfungsi sebagai penggerak utama yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai mitra tersebut.

“Mahasiswa tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan produksi, hingga strategi branding digital. Kolaborasi multi pihak ini diharapkan membentuk sistem pangan lokal yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan” tambah Cinta Amalia.

Dosen pendamping PPK Ormawa Himatepa Unimus Dr Siti Aminah, memberikan apresiasi penuh dan mengharapkan program penguatan keterampilan dan pengetahuan melalui implementasi Teknologi Sederhana ini akan memberikan dampak nyata terhadap masyarakat. Segenap tim PPK Ormawa Himatepa memiliki kopetensi untuk pendampingan dalam proses produksi dan pengembangan produk lainnya. (Ks01)