Site icon Kampussemarang.com

KESEHATAN JIWA DALAM ISLAM

Opini

 

OLEH : Suparno, S.Ag. M.S.I

ISLAM adalah agama yang tidak hanya mengatur masalah ritual, namun islam adalah agama yang mencakup segala aspek kehidupan. Salah satunya adalah tentang kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu, baik dari segi kesejahteraan pribadi, hubungan sosial, maupun produktivitas. Islam sebagai agama yang menyeluruh dan mencakup berbagai aspek kehidupan memberikan perhatian yang signifikan terhadap keseimbangan jiwa dan ketenangan batin. Pemahaman tentang kesehatan jiwa dalam perspektif Islam bukan hanya terbatas pada kesehatan mental, namun melibatkan dimensi spiritual yang lebih dalam. Dalam Islam, kesehatan jiwa erat kaitannya dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, lingkungan sosial, serta kualitas diri secara personal.

Ajaran Islam mencakup metode-metode tertentu yang dapat membantu merealisasikan kesehatan jiwa. Praktik ibadah seperti shalat, zikir, serta muhasabah diri menjadi instrumen dalam mencapai ketenangan jiwa, mengendalikan emosi, dan menghadapi tekanan hidup secara positif. Oleh karena itu, pemahaman kesehatan jiwa dalam perspektif Islam berbeda dengan konsep kesehatan mental yang diadopsi dari barat yang seringkali tidak mencakup dimensi spiritual yang integral. Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan) (Jalaluddin, 2016). Sedangkan menurut UU Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014, kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut mampu menyadari kemampuan dirinya sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi positif untuk komunitasnya. Selain itu, menurut WHO, kesehatan jiwa adalah kondisi ketika seseorang merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Menurut Al-Ghazali, kesehatan mental berkaitan dengan kepatuhan pada keyakinan agama, kebebasan dari gangguan mental, pandangan hidup yang matang, hubungan sosial yang baik, dan keberhasilan material maupun spiritual. Kesehatan mental perlu diperhatikan sejak dini karena manusia lahir dengan sifat baik, tetapi lingkungan sangat mempengaruhi perkembangannya. Kesehatan spiritual berperan penting dalam perkembangan mental dan fisik, dan ajaran agama berfungsi sebagai panduan hidup dari masa kanak-kanak hingga dewasa untuk menjaga keseimbangan jiwa manusia (Cholis & Syahril, 2018).

Menurut Al-Ghazali, tubuh adalah alat bagi jiwa, pikiran bersifat kekal, sementara tubuh akan mengalami kematian. Dalam mengendalikan emosi, manusia terbagi menjadi tiga kelompok: mereka yang berusaha keras menahan emosi, mereka yang pasrah mengikuti emosinya, dan mereka yang merasa tidak tergerak atau mati rasa terhadap emosi (Azean, 2018)

Al-Ghazali mengajarkan kesehatan mental melalui beberapa pendekatan yang menggabungkan akal, kebijaksanaan, dan iman. Ia menggunakan tiga metode utama untuk mencapai kesehatan mental (Hasan, 2017):

Mujahadah

Kata “mujâhadah” berasal dari kata arab “jahada” yang memiliki kedekatan makna dengan “jihad” yang berarti “upaya mencapai tujuan dengan penuh keikhlasan”. Mujahadah berarti usaha sungguh-sungguh melawan nafsu diri untuk membersihkan hati dari sifat negatif. Ini meliputi perjuangan melawan ego, nafsu, dan pengaruh buruk. Orang yang berusaha keras dalam mujahadah berhak mendapatkan segala pengetahuan yang sejati mengenai Allah dan kehendak-Nya. Seperti yang telah Allah firmankan dalam Q.S. Al-Ankabut: 69.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Perjuangan yang paling besar adalah melawan diri sendiri, jihad melawan nafsu, keinginan, godaan setan, dan pengaruh dunia yang dapat merusak.

Riyadhah

Dalam bahasa arab Riyadhah memiliki arti olahraga. Riyadhah adalah latihan spiritual yang bertujuan menahan nafsu dan fokus kepada Tuhan melalui ibadah seperti doa, puasa, dan pembatasan kebutuhan fisik. Tujuannya adalah memurnikan jiwa agar tetap taat kepada Allah dan terhindar dari perbuatan dosa. Menurut Al-Ghazali, amalan riyadhah dapat dilakukan dengan merenungkan diri secara terus-menerus, yang dapat berupa dialog internal yang mengarah pada kesadaran dan rasa syukur atas  akan keberadaan Allah SWT#

Tazkiyatun nafs

Tazkiyatun nafs adalah proses penyucian jiwa dengan menyingkirkan pikiran buruk dan menggantinya dengan akhlak yang baik. Dengan mengamalkan ini, seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dari segi perspektif akhlak tasawuf, ada ahli yang mengganti istilah tazkiyatun-nafs dengan takhliyat al-nafs (membebaskan diri dari akhlak yang buruk) dan tahliyat al-nafs (menghias diri dengan akhlak yang baik), sehingga seseorang dapat lebih dekat kepada Allah. Hasil dari refleksi diri dapat terlihat dari cara seseorang berinteraksi dalam berbagai hubungan sosial. Kesehatan jiwa dianggap sebagai aspek penting dari keseluruhan kesejahteraan manusia.

Dalam dunia kedokteran Islam, konsep kesehatan mental atau al-tibb al-ruhani diperkenalkan pertama kali oleh Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi, seorang dokter asal Persia (Azizah & Fauzan, 2021).

Beliau hidup pada tahun 850-934. Dalam kitabnya berjudul Masalih al-Abdan wa al Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil menghubungkan penyakit antara tubuh dan jiwa. Ia mengatakan, “Mental dan tubuh sama-sama bisa sakit.”. Melalui kitabnya, al-Balkhi meluruskan pandangan bahwa para pengidap gangguan mental seharusnya memiliki hak untuk pulih, setara dengan penderita fisik. Oleh karenanya, ia dengan tegas menanamkan nilai bahwa gangguan mental merupakan sesuatu yang serius.

Salah satu gangguan mental yang diuraikan oleh al-Balkhi adalah OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau yang ia sebut was-was. Gangguan tersebut merujuk pada pikiran berulang dan mengganggu yang sulit dikendalikan oleh penderitanya. Dalam memaparkan terapi untuk OCD, al-Balkhi mula-mula menanamkan mindset bahwa Allah—yang Mahatinggi dan Mahasuci—pasti membuat obat dan penawar  bagi  setiap  penyakit.

Apabila  sebuah  obat  telah  ditemukan,  ada  dua kemungkinan yang ditimbulkan, yaitu : kemungkinan yang akan ditimbulkan: Pertama, obat itu menjadi perantara bagi hilangnya penyakit tersebut. Kedua, obat itu meminimalisir efek yang lebih buruk di masa mendatang. Sehingga, berputus asa dari rahmat-Nya merupakan bentuk kekufuran dan hal yang dilarang. Kunci untuk melepaskan diri dari penyakit ini adalah mengubah dan memperbaiki mindset atau pola pikir menjadi lebih positif.

Selain al-Balkhi, peradaban Islam juga memiliki dokter kejiwaan yang bernama Abu al-Hasan Ali ibnu Sahl Rabban at-Tabari. Lewat kitab Firdous al-Hikmah yang ditulisnya pada abad ke-9M, beliau mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa. Firdaus al-Hikmah berisi terutama tentang pengobatan, tapi juga sampai suatu titik tertentu berbicara filsafat, meteorologi, zoologi, embriologi, psikologi, dan astronomi. Ini adalah sebuah buku berukuran sedang, terdiri dari hampir 550 halaman, dan dibagi menjadi 7 bagian (Naw), 30 wacana (Maqala) dan 360 bab. At-Tabari menyoroti betapa eratnya kaitan antara psikologi dengan kedokteran. At-Tabari telah menerangkan bahwa sering kali, pasien mengalami kesakitan disebabkan oleh imajinasi atau kepercayaan yang sesat. Untuk mengobatinya, kata at-Tabari, dapat dilakukan melalui ”konseling bijak”.

Terapi ini bisa dilakukan oleh seorang dokter yang cerdas dan memiliki rasa humor yang tinggi. Caranya dengan membangkitkan kembali kepercayaan diri pasien. Al-Tabari mengajarkan agar para dokter bisa memberikan perhatian yang tidak hanya dalam bentuk pengobatan tapi juga bentuk dialog. Ia melakukan pendekatan terhadap pasien dengan bantuan konseling, atau mencoba pasiennya mengungkapkan isi hati serta perasaan yang mengganggu.

Pemikir Muslim lainnya yang turut menyumbangkan pemikirannya untuk pengobatan penyakit kejiwaan adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya al-Razi.

Al-Razi merupakan seorang filsuf muslim, dokter, dan bahkan pemimpin rumah sakit di Baghdad dari abad ke-9. Dalam karyanya Kitab al-Mansuri, Al-Razi percaya bahwa kesejahteraan manusia memerlukan keseimbangan antara tubuh dan pikiran, di mana emosi dan kondisi mental memiliki peran besar dalam mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Menurutnya, akal memiliki kendali atas seluruh perbuatan manusia. Ia menentang apapun yang menolak akal dan bahkan menyarankan untuk menghindarinya. Al-Razi mengakui bahwa gangguan jiwa dapat timbul dari faktor-faktor internal seperti stres, kecemasan, dan pikiran negatif, serta faktor eksternal seperti tekanan sosial dan situasi kehidupan. Ia menganjurkan pendekatan holistik dalam penanganan kesehatan jiwa, termasuk terapi psikologis yang melibatkan dukungan emosional, perubahan gaya hidup, dan pengobatan herbal jika diperlukan.

Al-Razi juga menekankan pentingnya pemahaman diri dan pengelolaan emosi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Pandangan Al-Razi yang progresif dan menyeluruh ini menunjukkan bahwa ilmu kedokteran dan psikologi dalam peradaban Islam klasik sudah sangat maju dan memperhatikan hubungan antara tubuh dan jiwa.

Metode Islam dalam Merealisasikan Kesehatan Jiwa

Islam memberikan pendekatan komprehensif dalam menjaga kesehatan jiwa dengan prinsip-prinsip yang tercermin dalam Al-Qur’an, sunnah Nabi, dan pemahaman dari para ulama. Metode dalam Islam untuk mencapai kesehatan jiwa diantaranya sebagai berikut berdasarkan sumber Al-Qur’an dan sunnah nabi:

1. Tawakal (Percaya dan Berserah Diri pada Allah)

 Tawakkal yaitu bahwa segala sesuatu diatur oleh Allah membantu umat Islam menerima setiap kondisi yang terjadi, termasuk kesulitan atau ujian. Tawakal, atau berserah diri setelah usaha, juga mengurangi kecemasan berlebihan. Al-Qur’an menyebutkan pentingnya tawakal, seperti dalam QS. Al-Imran (3): 159.

2.Shalat dan Ibadah Lainnya

Shalat, zikir, dan ibadah lainnya memiliki efek menenangkan yang kuat. Shalat, misalnya, membantu individu mengekspresikan perasaan mereka kepada Allah, yang memberikan rasa ketenangan jiwa. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’du (13): 28 yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Di ayat lain dikatakan bahwa dengan shalat maka akan mengingat Allah SWT, sehingga dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Shalat juga akan mampu menjauhkan seorang hamba dari perbuatan keji daan munkar. Merujuk dari hal tersebut maka dengan mendirikan shalat manusia akan menjadi semakin baik dan manfaat bagi sesama.

3. Istighfar dan Taubat

Permohonan ampun dan tobat membantu seseorang mengurangi rasa bersalah atau penyesalan, yang berkontribusi terhadap kesehatan jiwa. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan pentingnya istighfar, walaupun beliau adalah seorang nabi. Meminta ampun kepada Allah membantu diri kita merefleksikan kesalahan dan menerima kekurangan diri. Hal ini akan mendorong kesehatan jiwa yang lebih positif. Permohonan ampun kepada Allah juga membantu diri memasukkan insight positif bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan, namun Allah selalu akan membimbing hambanya yang bertaubat. Seperti yang dijelaskan Allah dalam Q.S. Nuh ayat (10).

4. Menyebarkan Kebaikan dan Bersikap Dermawan

Islam mengajarkan untuk membantu orang lain dan bersedekah, yang terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan mental. Dalam QS. Al-Baqarah (2): 261, Allah mengingatkan betapa besar pahala bagi mereka yang bersedekah.

Perumpamaan orang yang sedekah di jalan Allah SWT, seperti biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat serratus biji dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki. Di sisi lain untuk mendapatkan kebaikan yang sempurna yaitu dengan menginfakkan sebagian rejeki yang kita cintai pada orang lain. Dalam sebuah hadits nabi dinyatakan bahwa sebaik baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain.

5. Keikhlasan dan Syukur

Keikhlasan atau kesabaran dalam menghadapi cobaan dan bersyukur atas segala nikmat adalah bagian penting dari kesehatan jiwa. Kesabaran adalah kualitas yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, termasuk dalam QS. Al-Baqarah (2): 153. Hal ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan kesabaran akan mengantarkan kita pada ketenangan batin dalam menghadapi segala dinamika di dunia. Selanjutnya, Allah menyebutkan bahwa dengan bersyukur, nikmat akan ditambah (QS. Ibrahim (14): 7). Karena dengan bersyukur bagi individu akan lebih berfokus pada nilai positif suatu keadaan, daripada mengharap hal yang tidak ada.

6.Husnudhan

Islam menekankan pentingnya berprasangka baik terhadap Allah SWT dan manusia. Berbaik sangka dalam bahasa arab disebut juga Husnudhan. Hal ini dapat mencegah munculnya prasangka negatif yang bisa merusak kesehatan mental. Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan”. Pikiran-pikiran baik akan mengantarkan pada ucapan yang baik. Sedangkan ucapan yang baik mengantarkan pada perbuatan baik, selanjutnya nasib yang baik. Kita harus mengedepankan prasangka baik, Karena Allah SWT pasti memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Indikator Kesehatan Jiwa dalam Islam

Di dunia barat, kesehatan jiwa atau yang lebih sering didengar dengan istilah psychological well-being telah dikenalkan oleh tokoh yang bernama Ryff. Menurut Ryff (1989), psychological well-being merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria keberfungsian psikologis positif. Ryff juga menyebutkan bahwa psychological well-being merupakan realisasi dan pencapaian penuh dari potensi individu, dimana individu dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya, mandiri, mampu membina hubungan yang positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungan sehingga sesuai dengan kondisi psikisnya, memiliki tujuan dalam hidup dan terus mengembangkan potensi dirinya. Ryff menyebutkan terdapat enam dimensi dalam psychological well-being yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian/otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Jika seseorang memiliki keenam dimensi tersebut dengan baik, maka akan tercermin dalam bagaimana ia berperilaku dan memberikan pandangan kepada hal-hal yang ada dalam hidupnya.

Sedangkan indikator kesehatan jiwa dalam Islam menekankan pada kedamaian hati, pengendalian diri, penerimaan takdir, serta amal saleh yang berlandaskan iman. Dalam Islam, kesehatan jiwa mencakup dimensi spiritual yang bertujuan untuk mencapai ketenangan dan keseimbangan. Beberapa ayat Al-Qur’an menjadi dasar untuk menilai indikator kesehatan jiwa dalam Islam. Misalnya, dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, Allah berfirman bahwa hati orang-orang beriman akan menjadi tenteram dengan mengingat-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah dan ketenangan batin adalah ciri penting dari kesehatan jiwa. Ketika seseorang merasa tenteram, mereka mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan tenang tanpa terbawa oleh emosi negatif.

Selain ketenangan atau kedamaian, indikator lainnya adalah kemampuan untuk menerima takdir dengan tawakal, yang tercermin dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat ini mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup. Individu yang sehat jiwanya mampu bersabar dan bergantung kepada Allah serta menjadikan shalat sebagai sarana untuk memperoleh ketenangan.

Sementara itu, Surah An-Nahl ayat 97 menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan dalam keimanan membawa kehidupan yang baik:

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

Ini menandakan bahwa tindakan positif dan amal saleh yang disertai iman menjadi salah satu indikator jiwa yang sehat dalam Islam. Ketika seseorang menjalani kehidupan yang baik dengan berperilaku saleh, hal itu menunjukkan keseimbangan dan stabilitas batin yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Indikator kesehatan jiwa dalam Islam tidak hanya mencakup dimensi psikologis, tetapi juga dimensi spiritual yang mengarahkan individu untuk mencapai ketenangan batin melalui kedekatan dengan Allah dan penerimaan terhadap ujian hidup.

Dengan demikian, kesehatan jiwa dalam Islam mencakup keseimbangan antara aspek mental dan spiritual, sedangkan di barat cenderung lebih terfokus pada fungsi psikologis yang optimal. Pendekatan barat sering kali menekankan pencapaian individu dan kemampuan untuk mengatasi masalah secara mandiri, sedangkan pendekatan Islam menekankan pentingnya ketergantungan pada Allah, kesabaran dalam menghadapi cobaan, dan pengamalan nilai-nilai spiritual sebagai landasan untuk mencapai kesehatan jiwa yang seutuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup individu, cara dan prinsip yang mendasarinya berbeda dan mencerminkan nilai-nilai budaya serta spiritual masing-masing.

Menurut Al-Ghazali, kesehatan mental berkaitan dengan kepatuhan pada keyakinan agama, kebebasan dari gangguan mental, pandangan hidup yang matang, hubungan sosial yang baik, dan keberhasilan material maupun spiritual. Untuk mencapai kesehatan mental, individu perlu menggabungkan sikap mujahadah, Riyadhah, serta Tazkiyatun Nafs yang merupakan pendekatan gabungan antara akal, kebijaksanaan menahan nafsu, dan keimanan.

Dalam merealisasikan kesehatan jiwa dalam Islam, terdapat beberapa metode diantaranya bertawakal atau berserah diri; mengerjakan Shalat dan Ibadah; senantiasa beristighfar dan bertaubat; menyebarkan kebaikan dan bersikap dermawan; bersabar dan bersyukur; serta ber-husnudzon atau berprasangka baik dalam menjalankan kehidupan di dunia. Hal ini dilakukan dalam upaya mencapai keseimbangan antara aspek dunia dan akhirat.

Individu yang sehat jiwanya menurut Islam yaitu yang seimbang antara hubungannya dengan tuhan, sesama manusia, dan lingkungannya. Lebih lanjut, yaitu yang dapat menjaga ibadahnya, menundukkan hawa nafsu, menggunakan akal, serta dapat berinteraksi dengan baik kepada sesama manusia. Indikator kesehatan jiwa dalam Islam tidak hanya mencakup dimensi psikologis, tetapi juga dimensi spiritual yang mengarahkan individu untuk mencapai ketenangan batin melalui kedekatan dengan Allah dan penerimaan terhadap ujian hidup. Dengan demikian, kesehatan jiwa dalam Islam mencakup keseimbangan antara aspek mental dan spiritual.

Wallahu A’lam Bishawab