
Ket Foto: Debi saat memamerkan alat limbah sederhana Foto DOK)
SEMARANG (kampussemarang.com)- KKN Tim I Undip mensosialisasikan metode adsorpsi limbah batik dan jeans, Sabtu (11/02/2017), di padepokan batik pesisir kecamatan Wiradesa Pekalongan
Mahasiswi jurusan kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip Debi Noviana mengatakan limbah cair hasil produksi tekstil batik mengandung zat warna seperti Remazol Black B yang dapat menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan, seperti kerusakan lingkungan, bioakumulasi, iritasi, karsinogenik
“Saat ini teknologi pengolahan limbah masih kurang dan perlu alternatif baru. Metode adsorpsi memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan metode lain seperti filtrasi, koagulasi dan elektrodekolorisasi. Keunggulannya adalah relatif sederhana dan ekonomis, dan bahan kimia yang digunakan ramah lingkungan” ujar Debi.
Lebih lanjut menurut Debi, dirinya saat ini baru membuat prototipe namun ke depan dapat dikembangkan ke dalam ukuran yang lebih luas seperti bak-bak hasil penampungan limbah. Proses adsorpsi dilakukan dengan menyaring limbah tekstil batik atau jeans melalui beberapa lapisan yaitu zeolit aktif, karbon aktif, ijuk, kerikil dan pasir. Hasil proses adsorpsi adalah air yang jernih dari yang semula keruh, dan proses adsorpsi ini memakan waktu 30 menit.
Wakil Sekretaris Universitas Dr Ir Fronthea Swastawati MSc saat kunjungan ke daerah KKN Undip ini menyampaikan apresiasi kepada warga karena menerima mahasiswa KKN yang akan berakhir 20 Februari 2017.
Sebanyak 431 mahasiswa yang diterjunkan di Kabupaten Pekalongan dibagi ke dalam empat kecamatan yakni Tirto, Wiradesa, Siwalan dan Sragi.
Sekretaris Bapedda pekalongan Abdul kholiq mengungkapkan karya dan inovasi pihak kampus menjadi hal yang penting bagi perkembangan industri kecil dan menengah. Di Kabupaten Pekalongan isu lingkungan menjadi hal penting, karena terdapat 12 ribu lebih industri batik dan 303 industri jeans yang menghasilkan limbah. Bagi usaha cukup besar, beberapa sudah memiliki pengolahan limbah yang baik, namun belum semuanya seperti itu.
“Keadaan ini menjadi dilematis karena di satu sisi akan meningkatkan taraf hidup masyarakat Pekalongan, tapi sisi lain dampak lingkungan hidup. Inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa dapat diaplikasikan di industri batik dan jeans yang ada di Pekalongan” ujar Sekretaris Bapeda. (ks01)
