
Mengenal Karakteristik Wirausaha
Opini : Endah Mujiasih. S.Psi., M.Si
Dosen Fakultas Psikologi Undip
Pengertian Kewirausahaan dan Wirausaha
Kewirausahaan dan wirausaha merupakan dua istilah yang saling berkaitan, tetapi memiliki makna yang berbeda. Kewirausahaan lebih menekankan pada proses, kemampuan, sikap, dan aktivitas dalam menciptakan serta mengembangkan suatu usaha, sedangkan wirausaha merujuk pada orang yang menjalankan atau melakukan kegiatan tersebut. Beberapa pengertian dari para ahli sebagai berikut:
Peter F. Drucker
kewirausahaan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Dengan demikian, inti kewirausahaan terletak pada kemampuan seseorang dalam menghasilkan inovasi dan melihat peluang yang dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai.
Thomas W. Zimmerer
kewirausahaan merupakan penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah serta memanfaatkan peluang yang dihadapi. Pandangan ini menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan mendirikan bisnis, tetapi juga kemampuan menghasilkan solusi dan menciptakan nilai melalui kreativitas dan inovasi.
Hisrich, Peters, dan Shepherd
pengertian yang lebih komprehensif bahwa kewirausahaan merupakan proses menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai, dengan mencurahkan waktu dan usaha, menghadapi risiko keuangan, fisik, dan sosial, serta memperoleh imbalan berupa keuntungan, kepuasan pribadi, dan kebebasan.
Scarborough dan Zimmerer
wirausahawan (entrepreneur) sebagai seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk memperoleh keuntungan dan pertumbuhan, melalui proses mengidentifikasi peluang dan mengombinasikan sumber daya yang diperlukan.
Kasmir
wirausaha (entrepreneur) adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengambil risiko dalam membuka usaha pada berbagai kesempatan. Keberanian tersebut berkaitan dengan sikap mandiri dan kesiapan menghadapi kondisi yang tidak pasti.
Wirausahawan kreatif sebagai individu yang memanfaatkan kepekaan artistik dan kreativitas mereka untuk mengidentifikasi peluang serta menyediakan produk, layanan, atau pengalaman kreatif; serta sebagai individu yang menggabungkan berbagai sumber daya untuk memanfaatkan peluang tersebut sebagai suatu usaha (Leadbeater dan Oakley, 1999; Rae, 2007; Chang, Y. Y., & Chen, M. H., 2020). Keberhasilan suatu usaha baru sebagian besar bergantung pada bakat dan perilaku para wirausahawannya (Timmons & Spinelli, 2008; Chang, Y. Y., & Chen, M. H.,2020). Namun, penelitian mengenai bagaimana atribut individual wirausahawan kreatif berkaitan dengan keberhasilan karier mereka masih terbatas (Chaston dan Sadler-Smith, 2012; Eikhof dan Haunschild, 2006; Paige dan Littrell, 2002; Chang, Y. Y., & Chen, M.H., 2020). Ketika memutuskan untuk menempuh karier sebagai wirausahawan, wirausahawan kreatif dihadapkan pada dilema untuk menyeimbangkan nilai artistik dan orisinalitas dengan kepraktisan serta kelayakan komersial (Caves, 2000; Chaston dan Sadler Smith, 2012; Chang, Y. Y., & Chen, M.-H., 2020). Dari perspektif teori kognisi kewirausahaan (Mitchell et al., 2007; Chang, Y.-Y., & Chen, M. H., 2020), kunci untuk mengatasi dilema tersebut terletak pada kreativitas wirausahawan dan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi peluang pasar (Mietzner dan Kamprath, 2013; Timmons dan Spinelli, 2008; Chang, Y.-Y., & Chen, M.-H., 2020).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu proses dan kemampuan yang melibatkan kreativitas, inovasi, keberanian mengambil risiko, kemampuan mengenali serta memanfaatkan peluang, dan pengelolaan sumber daya untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai. Sementara itu, wirausaha adalah individu yang menerapkan kemampuan tersebut dalam kegiatan usaha dengan mengidentifikasi peluang, mengembangkan ide, mengorganisasi sumber daya, serta menghadapi risiko untuk menciptakan nilai dan memperoleh hasil tertentu. Kesimpulan ini sejalan dengan sumber-sumber akademik yang menempatkan kreativitas, inovasi, peluang, risiko, dan penciptaan nilai sebagai unsur utama kewirausahaan.
Pengertian Karakter Wirausaha
Beberapa pakar menyebutkan karakteristik wirausahawan adalah ciri-ciri, sifat, sikap, dan kemampuan yang melekat pada diri seseorang dalam menjalankan kegiatan kewirausahaan.
Karakteristik tersebut membantu seorang wirausahawan dalam melihat peluang, mengambil keputusan, menghadapi risiko, mengelola usaha, dan mencapai tujuan bisnis. Selain itu, karakteristik wirausaha meliputi percaya diri, orientasi pada tugas dan hasil, keberanian mengambil risiko, kepemimpinan, serta kreativitas dan inovasi. Jadi, karakter wirausaha merupakan kombinasi sikap dan keterampilan yang mendukung seseorang dalam mengenali peluang dan mengubahnya menjadi tindakan, termasuk inisiatif, perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan risiko, dan kepemimpinan.
Menurut para pakar karakter wirausaha meliputi:
- Opportunity-oriented
Opportunity-oriented merupakan karakteristik kewirausahaan yang menunjukkan kecenderungan individu untuk peka terhadap kebutuhan, masalah, perubahan, dan kondisi lingkungan yang berpotensi menjadi peluang. Ardichvili et al. (2003) menjelaskan bahwa identifikasi peluang berkaitan dengan entrepreneurial alertness, yaitu kesiapsiagaan individu dalam mengenali, mengembangkan, dan mengevaluasi peluang bisnis. Selanjutnya, Baron (2006) menjelaskan bahwa pengenalan peluang melibatkan pattern recognition, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan berbagai informasi, perubahan, dan peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan sehingga membentuk pola yang dapat mengarah pada peluang produk atau jasa baru. Baron dan Ensley (2006) juga menegaskan bahwa pengenalan peluang melibatkan kemampuan mendeteksi pola bermakna dari berbagai peristiwa atau tren. Berdasarkan pandangan tersebut, opportunity-oriented dapat didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk secara aktif dan peka mengenali kebutuhan, masalah, perubahan, atau kondisi lingkungan sebagai peluang yang dapat dikembangkan untuk menciptakan nilai (Ardichvili et al., 2003; Baron, 2006; Baron & Ensley, 2006). Artinya, opportunity-oriented bukan sekadar “mencari ide bisnis”, tetapi mencakup kemampuan kognitif untuk, memperhatikan perubahan di lingkungan; mengidentifikasi kebutuhan atau masalah; menghubungkan informasi yang berbeda; mengenali pola atau kemungkinan baru; kemudian melihat potensi pola tersebut sebagai peluang usaha. Terdapat tiga unsur utama dalam opportunity-oriented:
Opportunity awareness
Individu memiliki kepekaan terhadap perubahan, kebutuhan, masalah, dan kondisi lingkungan yang berpotensi menghasilkan peluang (Ardichvili et al., 2003).
Opportunity recognition
Individu mampu mengenali bahwa suatu kebutuhan atau masalah memiliki kemungkinan untuk dikembangkan menjadi peluang bisnis (Ardichvili et al., 2003).
Pattern recognition
Individu mampu menghubungkan berbagai informasi, pengalaman, dan perubahan sehingga menemukan pola yang dapat mengarah pada peluang baru (Baron, 2006; Baron & Ensley, 2006).
Karakter Opportunity-oriented dalam Konteks Wirausaha
Karakter seorang wirausahawan yang berorientasi pada peluang, yaitu kemampuan untuk melihat, mengenali, dan memanfaatkan peluang bisnis yang ada di lingkungan sekitar untuk menciptakan usaha atau mengembangkan bisnis.
Karakter ini membuat seorang wirausahawan tidak hanya menunggu peluang datang, tetapi juga aktif mencari peluang dari kebutuhan masyarakat, perubahan tren, perkembangan teknologi, dan permasalahan yang belum terpecahkan. Ciri-ciri wirausahawan yang opportunity-oriented:
Peka terhadap peluang, mampu melihat kebutuhan atau masalah masyarakat yang bisa dijadikan ide bisnis.
Berpikir kreatif dan inovatif, mampu menciptakan produk atau layanan yang memiliki nilai tambah.
Proaktif, mengambil inisiatif untuk mencari dan memanfaatkan peluang, bukan hanya menunggu.
Berani mengambil risiko yang terukur, bersedia mencoba peluang bisnis setelah mempertimbangkan keuntungan dan risikonya.
Mampu membaca tren pasar, memahami perubahan selera konsumen dan menyesuaikan strategi bisnis.
Kesimpulan, opportunity-oriented adalah karakter wirausahawan yang berfokus pada pencarian dan pemanfaatan peluang bisnis untuk menciptakan nilai dan memperoleh keuntungan, bukan sekadar berfokus pada masalah atau keterbatasan yang dihadapi. Karakter opportunity-oriented penting karena membantu wirausahawan menemukan ide bisnis yang potensial, menghadapi persaingan, menyesuaikan diri dengan perubahan pasar, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
- Proaktif
Karakter proaktif menurut Bateman dan Crant (1993) menjelaskan bahwa perilaku proaktif merupakan kecenderungan individu untuk mempengaruhi dan mengubah lingkungan, bukan sekadar bereaksi terhadap keadaan. Individu yang proaktif cenderung mencari peluang, menunjukkan inisiatif, mengambil tindakan, dan bertahan sampai perubahan yang diinginkan tercapai. Sedangkan Frese dan Fay (2001) mendefinisikan personal initiative sebagai perilaku kerja yang dimulai dari diri sendiri (self-starting) dan bersifat proaktif, serta melibatkan usaha untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan. Konsep ini juga relevan dengan perilaku kewirausahaan karena inisiatif pribadi mendorong seseorang untuk bertindak aktif dalam menghadapi masalah dan peluang. Lumpkin dan Dess (1996) menempatkan proactiveness sebagai salah satu dimensi orientasi kewirausahaan. Menurut mereka, proaktif berkaitan dengan kemampuan mengantisipasi dan bertindak terhadap kebutuhan masa depan serta mencari peluang baru. Dengan demikian, wirausahawan proaktif tidak hanya menunggu perubahan pasar, tetapi berusaha mengambil langkah terlebih dahulu untuk merespons peluang tersebut.
Karakter Proaktif dalam Konteks Wirausaha
Sikap seseorang yang memiliki inisiatif untuk mengambil tindakan, mencari peluang, dan mengantisipasi masalah sebelum masalah tersebut terjadi, tanpa harus menunggu perintah atau keadaan memaksanya bertindak. Seorang wirausahawan yang proaktif tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi juga berusaha menciptakan peluang dan melakukan langkah nyata untuk mencapai keberhasilan usahanya.
Ciri-ciri karakter proaktif dalam wirausaha:
Memiliki inisiatif, berani memulai usaha atau mencoba ide baru tanpa harus menunggu arahan orang lain.
Peka terhadap peluang, mampu melihat kebutuhan pasar dan mengubahnya menjadi peluang bisnis.
Berorientasi pada tindakan, segera melakukan langkah nyata untuk mewujudkan rencana.
Antisipatif, mampu memperkirakan risiko dan menyiapkan solusi sebelum masalah muncul.
Kreatif dan inovatif, mencari cara baru untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan.
Bertanggung jawab, bersedia menerima konsekuensi dari keputusan dan tindakan yang diambil.
Tidak mudah menyerah, aktif mencari alternatif ketika menghadapi hambatan.
Contoh karakter proaktif dalam wirausaha
Seorang wirausaha kuliner menyadari bahwa pelanggan mulai menyukai makanan sehat. Sebelum pesaingnya melakukan hal yang sama, ia mulai mengembangkan menu sehat, melakukan promosi melalui media sosial, dan menyediakan layanan pemesanan daring. Tindakan tersebut menunjukkan karakter proaktif karena pengusaha mampu mengenali peluang, mengambil inisiatif, dan bertindak lebih awal untuk mengembangkan usahanya.
Mengapa karakter proaktif penting bagi wirausahawan ?
Karakter proaktif penting karena dapat membantu wirausahawan untuk:
Memanfaatkan peluang bisnis lebih cepat.
Menghadapi persaingan dengan lebih baik.
Mengurangi risiko melalui persiapan yang matang.
Mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Kesimpulan dari penjelasan diatas, karakter proaktif adalah kemampuan untuk mengambil inisiatif dan bertindak lebih awal dalam menghadapi peluang maupun tantangan. Dalam wirausaha, karakter ini membantu seseorang menjadi pelaku usaha yang mandiri, inovatif, dan mampu mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.
Juga dapat diartikan sebagai kecenderungan seorang wirausahawan untuk mengambil inisiatif dan bertindak secara aktif dalam mencari serta memanfaatkan peluang, mengantisipasi perubahan, dan mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan, daripada hanya menunggu atau bereaksi terhadap keadaan.
- CreativeThinking
Creative thinking (berpikir kreatif) merupakan kemampuan mental untuk menghasilkan gagasan, pendekatan, atau solusi yang baru, beragam, dan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Jadi, creative thinking tidak hanya berarti “mencari ide yang berbeda”, tetapi juga mencakup kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan alternatif solusi yang memiliki nilai atau kegunaan.
Creative thinking (berpikir kreatif) adalah kemampuan individu untuk menghasilkan ide, gagasan, atau alternatif penyelesaian masalah yang baru, beragam, dan relevan. Berpikir kreatif tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sesuatu yang berbeda, tetapi juga kemampuan mengembangkan gagasan tersebut sehingga dapat digunakan untuk menghadapi suatu permasalahan. Menurut Runco dan Acar (2019; Pandumpi, 2023), kreativitas berkaitan erat dengan kemampuan menghasilkan ide yang orisinal dan efektif. Dengan demikian, sebuah gagasan dapat dikatakan kreatif apabila memiliki unsur kebaruan sekaligus mempunyai relevansi atau kegunaan terhadap permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, menjelaskan creative thinking sebagai kemampuan untuk terlibat secara produktif dalam proses menghasilkan, mengevaluasi, dan memperbaiki ide sehingga dapat menghasilkan solusi yang orisinal dan efektif. Perspektif ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif bukan hanya proses menemukan banyak ide, tetapi juga mencakup kemampuan mengembangkan dan mengevaluasi ide.
Menurut Lucas (2016), berpikir kreatif dapat dipahami melalui beberapa karakteristik, yaitu kemampuan untuk bertanya dan mengeksplorasi, menghasilkan ide, membayangkan kemungkinan, bertindak secara inovatif, serta memperbaiki dan mengembangkan ide. Oleh karena itu, creative thinking dapat muncul ketika seseorang mencoba melihat suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda dan mencari berbagai kemungkinan penyelesaian. Sementara itu, Beghetto (2021) menjelaskan bahwa kreativitas dalam konteks pendidikan dapat berkembang ketika individu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan menghasilkan gagasan yang berbeda. Proses tersebut memungkinkan seseorang tidak terpaku pada satu jawaban, tetapi mempertimbangkan berbagai alternatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Berdasarkan pendapat tersebut, creative thinking dapat disimpulkan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan berbagai ide dan alternatif solusi yang orisinal, fleksibel, relevan, dan efektif melalui proses mengeksplorasi permasalahan, mengembangkan kemungkinan, serta mengevaluasi dan memperbaiki gagasan yang dihasilkan. Dengan demikian, creative thinking memiliki peran penting dalam pemecahan masalah karena membantu individu menemukan alternatif solusi baru ketika solusi yang sudah ada belum memadai.
Karakter Creative Thinking (berpikir kreatif) dalam Konteks Wirausaha
Kemampuan seorang wirausahawan untuk menghasilkan ide-ide baru, menemukan solusi yang unik, serta mengembangkan produk atau layanan yang memiliki nilai tambah dan mampu memenuhi kebutuhan pasar. Seorang wirausahawan yang memiliki creative thinking tidak hanya mengikuti cara yang sudah ada, tetapi juga berani mencoba pendekatan baru untuk menciptakan peluang bisnis dan menghadapi persaingan.
Ciri-ciri karakter Creative Thinking dalam wirausaha
Inovatif, mampu menciptakan atau mengembangkan produk dan layanan yang berbeda dari pesaing.
Berpikir terbuka, bersedia menerima ide, masukan, dan sudut pandang baru.
Mampu memecahkan masalah, menemukan solusi alternatif ketika menghadapi kendala bisnis.
Imajinatif, mampu membayangkan ide atau konsep usaha yang belum banyak dikembangkan.
Fleksibel, mampu menyesuaikan ide dan strategi sesuai perubahan kebutuhan pasar.
Berani bereksperimen, bersedia mencoba metode baru dan belajar dari kegagalan.
Mampu melihat peluang dari masalah, menjadikan kesulitan sebagai sumber ide untuk menciptakan produk atau layanan baru.
Contoh Creative Thinking dalam wirausaha
Misalnya, seorang pengusaha minuman menyadari bahwa banyak pelanggan ingin membeli minuman dengan harga terjangkau. Ia kemudian membuat inovasi berupa minuman dengan berbagai pilihan rasa, menggunakan kemasan yang menarik, dan menawarkan sistem pembelian paket hemat.
Contoh tersebut menunjukkan creative thinking karena pengusaha mampu menghasilkan ide baru untuk menarik pelanggan, memberikan nilai tambah, dan meningkatkan daya saing usahanya.
Mengapa Creative Thinking penting dalam wirausaha?
Menciptakan inovasi: membantu menghasilkan produk atau layanan yang unik.
Meningkatkan daya saing: membuat usaha memiliki keunggulan dibandingkan pesaing.
Menemukan peluang baru: membantu mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi.
Mengatasi tantangan: memungkinkan pengusaha menemukan solusi alternatif terhadap masalah bisnis.
Mendorong perkembangan usaha: membantu bisnis tetap relevan dengan perubahan tren dan kebutuhan pasar.
Kesimpulannya, creative thinking merupakan kemampuan berpikir kreatif untuk menghasilkan ide, inovasi, dan solusi baru dalam menjalankan usaha. Karakter ini penting bagi wirausahawan agar mampu menciptakan produk yang menarik, memanfaatkan peluang, dan bersaing di pasar secara berkelanjutan.
Growth-oriented
Growth-oriented merupakan pola pikir yang memandang bahwa kemampuan, keterampilan, dan kapasitas seseorang tidak bersifat tetap, tetapi dapat dikembangkan melalui pengalaman, usaha, pembelajaran, serta respons terhadap umpan balik. Konsep ini berkaitan erat dengan growth mindset yang diperkenalkan oleh Dweck dan Leggett (1988). Individu dengan orientasi ini cenderung melihat tantangan dan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan semata-mata sebagai bukti keterbatasan kemampuan. Menurut Dweck (2006), seseorang yang memiliki growth mindset meyakini bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Keyakinan tersebut dapat mendorong individu untuk menghadapi tantangan, bertahan ketika mengalami kesulitan, serta memanfaatkan kritik dan pengalaman sebagai sumber pembelajaran. Dengan demikian, growth-oriented menekankan pentingnya proses pengembangan diri secara berkelanjutan melalui pengalaman dan pembelajaran.
Dalam konteks pendidikan maupun pekerjaan, orientasi ini dapat terlihat ketika seseorang secara aktif mencari kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru, menerima umpan balik, mengevaluasi kesalahan, dan mencoba strategi yang berbeda untuk meningkatkan kemampuannya. Namun, penting untuk dipahami bahwa growth mindset bukan berarti semua kemampuan akan berkembang tanpa batas hanya dengan usaha; perkembangan kemampuan juga dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran, strategi yang digunakan, dukungan lingkungan, dan kesempatan yang tersedia (Dweck & Yeager, 2019).
Karakter Growth-oriented dalam Konteks Wirausaha
Karakter atau pola pikir seorang wirausahawan yang berorientasi pada pertumbuhan, perkembangan, dan peningkatan usaha secara berkelanjutan. Seorang wirausahawan dengan karakter ini selalu berusaha mengembangkan kemampuan diri, meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, serta mencari peluang baru untuk memajukan bisnisnya.
Ciri-ciri karakter Growth-oriented
Berorientasi pada kemajuan, selalu ingin meningkatkan kualitas dan hasil usaha.
Terbuka terhadap pembelajaran, mau mempelajari hal baru untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha.
Tidak takut gagal, menjadikan kegagalan sebagai pengalaman dan bahan evaluasi.
Inovatif dan kreatif, mencari ide baru untuk mengembangkan produk atau layanan.
Mampu melihat peluang, jeli menemukan kesempatan bisnis di tengah perubahan pasar.
Memiliki tujuan jangka Panjang, menetapkan target dan strategi untuk mengembangkan usaha.
Mau menerima kritik dan saran, menggunakan masukan pelanggan untuk memperbaiki bisnis.
Contoh dalam kehidupan wirausaha
Misalnya, seorang pengusaha UMKM menjual keripik pisang. Awalnya, ia hanya menjual produknya di lingkungan sekitar. Namun, karena memiliki karakter growth-oriented, ia kemudian:
Memperbaiki kemasan agar lebih menarik.
Membuat variasi rasa baru berdasarkan masukan pelanggan.
Memasarkan produk melalui media sosial dan marketplace.
Mempelajari strategi pemasaran digital.
Memperluas penjualan ke toko oleh-oleh dan luar kota.
Dengan melakukan hal tersebut, usahanya berpeluang meningkatkan penjualan dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Kesimpulannya, karakter growth-oriented sangat penting bagi wirausahawan karena mendorong mereka untuk terus belajar, berinovasi, beradaptasi, dan mengembangkan usaha. Intinya, wirausahawan yang growth-oriented tidak hanya berusaha mempertahankan bisnisnya, tetapi juga terus mencari cara agar bisnisnya berkembang dan menjadi lebih baik.
Risk Awareness
Risk awareness merupakan kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mempertimbangkan potensi risiko serta konsekuensi yang mungkin timbul sebelum mengambil suatu keputusan atau melakukan tindakan. Kesadaran terhadap risiko tidak berarti menghindari seluruh risiko, tetapi melibatkan kemampuan untuk menilai kemungkinan terjadinya risiko dan dampaknya sehingga individu dapat menentukan tindakan yang lebih tepat. Dalam konteks pengambilan keputusan, individu perlu mempertimbangkan ketidakpastian dan konsekuensi dari berbagai alternatif sebelum menentukan pilihan (Renn, 2008). Menurut Aven (2016), pemahaman terhadap risiko mencakup pertimbangan mengenai ketidakpastian, kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, serta konsekuensi yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, individu yang memiliki risk awareness cenderung tidak mengambil risiko secara sembarangan. Mereka bersedia menghadapi risiko apabila risiko tersebut telah dipahami dan konsekuensinya telah dipertimbangkan. Kesadaran ini membantu individu membuat keputusan dengan mempertimbangkan manfaat yang diharapkan sekaligus potensi kerugian yang dapat muncul.
Dalam konteks kewirausahaan, risk awareness menjadi penting karena kegiatan bisnis sering kali melibatkan kondisi yang tidak pasti. Kuratko (2016) menjelaskan bahwa kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi dan mengevaluasi peluang sekaligus menghadapi ketidakpastian dan risiko yang menyertainya. Dengan demikian, risk awareness dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk berani menghadapi risiko secara terukur dengan terlebih dahulu mempertimbangkan kemungkinan dan konsekuensi dari risiko tersebut.
Karakter Risk Awareness dalam Konteks Wirausaha
Risk awareness atau kesadaran terhadap risiko adalah karakter seorang wirausaha yang mampu mengenali, memahami, dan mempertimbangkan berbagai risiko yang mungkin muncul dalam menjalankan usaha sebelum mengambil keputusan. Seorang wirausaha dengan karakter risk awareness tidak berarti takut mengambil risiko, tetapi mampu mengambil risiko secara sadar, terukur, dan penuh pertimbangan agar peluang keberhasilan usahanya lebih besar.
Ciri-ciri karakter Risk Awareness
Mampu mengidentifikasi risiko, menyadari kemungkinan masalah, seperti kerugian finansial, persaingan bisnis, atau perubahan tren pasar.
Berpikir sebelum mengambil keputusan, mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan bisnis.
Mempersiapkan rencana cadangan, memiliki strategi alternatif jika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.
Mengelola keuangan dengan bijak, tidak menggunakan seluruh modal untuk satu keputusan yang belum pasti.
Belajar dari kegagalan, mengevaluasi kesalahan dan menjadikannya sebagai pengalaman untuk memperbaiki usaha.
Contoh dalam kehidupan wirausaha
Misalnya, seorang pengusaha ingin membuka usaha minuman kekinian. Sebelum membuka toko, ia melakukan survei pasar, menghitung modal dan biaya operasional, mempelajari pesaing, serta menguji produknya dalam skala kecil. Dengan cara tersebut, ia dapat mengetahui potensi keuntungan dan risiko kerugian sebelum menginvestasikan modal dalam jumlah besar.
Mengapa Risk Awareness penting bagi wirausaha?
Mengurangi potensi kerugian karena risiko dapat diantisipasi sejak awal.
Membantu pengambilan keputusan berdasarkan data dan pertimbangan yang matang.
Meningkatkan peluang keberhasilan usaha melalui perencanaan yang lebih baik.
Menjaga keberlangsungan bisnis ketika menghadapi perubahan pasar atau kondisi ekonomi.
Kesimpulannya adalah karakter risk awareness merupakan kemampuan wirausaha untuk menyadari dan mengelola risiko dalam menjalankan bisnis. Karakter ini penting karena keberhasilan wirausaha tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengambil peluang, tetapi juga oleh kemampuan memperhitungkan risiko dan menyiapkan langkah untuk menghadapinya. Intinya, wirausaha yang memiliki risk awareness bukanlah orang yang menghindari semua risiko, melainkan orang yang memahami risiko sebelum bertindak.
Resilience (Resiliensi)
Resilience merupakan kemampuan individu untuk menghadapi, menyesuaikan diri, dan pulih secara adaptif ketika mengalami tekanan, kegagalan, kesulitan, atau berbagai situasi yang penuh tantangan. Resiliensi tidak berarti bahwa seseorang tidak mengalami stres, kesedihan, atau kegagalan, tetapi menunjukkan kemampuan untuk tetap berfungsi secara adaptif dan kembali bangkit setelah menghadapi kondisi yang sulit. Dengan demikian, resiliensi berkaitan dengan proses pemulihan sekaligus kemampuan untuk beradaptasi secara positif terhadap keadaan yang penuh tekanan (de Terte et al., 2019). Resiliensi juga dipandang sebagai proses yang dinamis, bukan sekadar sifat kepribadian yang bersifat tetap. Selanjutnya dikatakan, proses tersebut melibatkan interaksi antara faktor individu dan lingkungan, seperti karakteristik pribadi, kemampuan menghadapi masalah, dukungan sosial, serta sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, seseorang dapat menunjukkan tingkat resiliensi yang berbeda ketika menghadapi situasi atau tahap kehidupan yang berbeda. Resiliensi juga bukan kemampuan yang sepenuhnya bersifat bawaan. Bukti dari meta-analisis menunjukkan bahwa berbagai intervensi yang bertujuan meningkatkan resiliensi dapat memberikan dampak positif, meskipun besarnya efek berbeda-beda antarpenelitian dan konteks (Liu et al., 2020).
Dalam konteks kegagalan dan hambatan, resiliensi dapat terlihat melalui kemampuan individu untuk menerima kegagalan, mengelola respons emosional, mengevaluasi penyebab masalah, mengambil pembelajaran, kemudian mencoba kembali dengan strategi yang lebih sesuai. Dengan kata lain, individu yang resilien tidak hanya berusaha kembali ke kondisi sebelumnya (bounce back), tetapi juga dapat menggunakan pengalaman sulit sebagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan beradaptasi secara lebih baik (de Terte et al., 2019). Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengalami kegagalan dalam ujian. Individu yang memiliki resiliensi tidak memandang kegagalan tersebut sebagai akhir dari kemampuannya. Ia dapat mengelola rasa kecewa, mengidentifikasi penyebab kegagalan, memperbaiki metode belajar, meminta bantuan ketika diperlukan, dan kembali mempersiapkan diri untuk ujian berikutnya. Perilaku tersebut menggambarkan kemampuan bertahan, beradaptasi, bangkit, dan belajar dari kegagalan.
Berdasarkan uraian tersebut, resiliensi dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk menghadapi kegagalan, tekanan, dan hambatan dengan melakukan penyesuaian secara adaptif, memulihkan fungsi diri, mengambil pembelajaran dari pengalaman, serta kembali melanjutkan usaha untuk mencapai tujuan. Resiliensi tidak berarti terbebas dari kesulitan, melainkan kemampuan untuk tetap beradaptasi dan berkembang meskipun menghadapi kondisi yang penuh tantangan. Dengan demikian, resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman, proses belajar, strategi coping, serta dukungan dari lingkungan.
Karakter Resilience dalam Konteks Wirausaha
Karakter resilience (resiliensi) seorang wirausaha diganmbarkan sebagai kemampuan untuk bertahan, bangkit kembali, dan beradaptasi ketika menghadapi kegagalan, tekanan, risiko, serta berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis. Seorang wirausaha yang memiliki karakter resilience tidak mudah menyerah ketika usahanya mengalami masalah. Sebaliknya, ia menjadikan kesulitan sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki strategi, dan mengembangkan usahanya.
Ciri-ciri wirausaha yang memiliki karakter Resilience
Pantang menyerah: Tetap berusaha meskipun menghadapi kegagalan atau kerugian.
Mampu beradaptasi: Bersedia mengubah strategi bisnis sesuai perubahan pasar dan kebutuhan konsumen.
Berpikir positif dan realistis: Melihat masalah sebagai tantangan yang dapat diatasi, bukan sebagai akhir dari usaha.
Mampu mengelola emosi: Tetap tenang ketika menghadapi tekanan dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Belajar dari kegagalan: Mengevaluasi kesalahan agar tidak terulang kembali.
Konsisten dan tekun: Tetap berkomitmen pada tujuan bisnis meskipun hasil tidak langsung terlihat.
Contoh Resilience dalam Kewirausahaan
Misalnya, seorang pengusaha kuliner mengalami penurunan penjualan karena banyak pesaing baru. Alih-alih langsung menutup usahanya, ia melakukan evaluasi terhadap produknya, meminta masukan pelanggan, memperbaiki kualitas makanan, dan mulai memasarkan produknya melalui media sosial. Setelah melakukan beberapa perubahan, penjualannya perlahan meningkat. Sikap pengusaha tersebut menunjukkan karakter resilience, karena ia mampu menghadapi kesulitan, belajar dari situasi yang terjadi, dan menyesuaikan strategi untuk mempertahankan bisnisnya.
Mengapa resilience penting bagi wirausaha?
Karakter ini penting karena dunia usaha penuh dengan ketidakpastian. Resiliensi membantu wirausaha untuk:
Menghadapi risiko dan kegagalan dengan lebih baik.
Mempertahankan motivasi ketika bisnis mengalami kesulitan.
Menemukan solusi kreatif terhadap masalah.
Menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
Meningkatkan peluang keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Kesimpulannya karakter resilience merupakan salah satu modal penting bagi seorang wirausaha. Keberhasilan berwirausaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh keuntungan, tetapi juga oleh kemampuan untuk bertahan, belajar, dan bangkit ketika menghadapi kegagalan. Resiliensi bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan kemampuan untuk menghadapi kegagalan dan terus memperbaiki diri.
Problem-Solving Orientation
Problem-solving orientation atau orientasi pemecahan masalah merupakan kecenderungan kognitif dan emosional seseorang dalam memandang serta merespons masalah yang dihadapi. Orientasi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menemukan solusi, tetapi juga dengan bagaimana individu menilai suatu masalah, keyakinannya bahwa masalah dapat diselesaikan, serta kesediaannya untuk melakukan usaha dalam mencari solusi. Individu dengan orientasi pemecahan masalah yang positif cenderung memandang masalah sebagai sesuatu yang dapat diatasi dan diselesaikan, bukan semata-mata sebagai ancaman. Orientasi pemecahan masalah yang positif ditandai oleh beberapa karakteristik, yaitu adanya keyakinan bahwa masalah dapat diselesaikan, kepercayaan terhadap kemampuan diri untuk menghadapi masalah, kesediaan mengalokasikan waktu dan usaha, serta kecenderungan untuk menghadapi masalah secara aktif daripada menghindarinya. Dengan demikian, individu tidak berhenti pada pengenalan masalah, tetapi berusaha mencari berbagai alternatif tindakan yang memungkinkan untuk menghasilkan penyelesaian.
Dalam praktiknya, berfokus pada pencarian solusi berarti individu mengarahkan perhatian pada pertanyaan seperti “Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi masalah ini?” atau “Alternatif apa yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah?”. Proses tersebut dapat melibatkan identifikasi masalah, memahami penyebabnya, menghasilkan beberapa alternatif solusi, memilih tindakan yang sesuai, kemudian mengevaluasi hasil dari solusi yang diterapkan. Penelitian mengenai intervensi pemecahan masalah juga menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat mendorong perubahan dari pola menghindar menuju pendekatan yang lebih proaktif terhadap masalah. Sebaliknya, orientasi masalah yang negatif dapat membuat individu memandang masalah sebagai ancaman, meragukan kemampuan dirinya untuk menyelesaikannya, merasa mudah frustrasi, atau memilih menghindari masalah. Penelitian pada mahasiswa menunjukkan bahwa orientasi masalah yang positif dan kemampuan pemecahan masalah berkaitan dengan berbagai indikator penyesuaian psikologis, sedangkan orientasi negatif berkaitan dengan hasil psikologis yang kurang adaptif.
Dengan demikian, problem-solving orientation dapat didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk memandang masalah sebagai sesuatu yang dapat diselesaikan serta mengarahkan pikiran, emosi, dan perilakunya pada pencarian, pemilihan, dan penerapan solusi yang sesuai. Dalam konteks menghadapi kegagalan atau hambatan, orientasi ini membantu individu mengalihkan fokus dari sekadar memikirkan kesulitan menuju upaya konkret untuk menemukan jalan keluar. Jadi intinya, problem-solving orientation adalah kecenderungan individu untuk menghadapi masalah secara aktif dengan meyakini bahwa masalah dapat diselesaikan, mencari berbagai alternatif solusi, memilih tindakan yang sesuai, dan berusaha menerapkan serta mengevaluasi solusi tersebut.
Karakter Problem-Solving Orientation dalam Konteks Wirausaha
Wirausaha juga harus memiliki problem-solving prientation yang baik, digambarkan sebagai kemampuan mengenali masalah, menganalisis penyebabnya, serta mencari dan menerapkan solusi yang efektif, kreatif, dan tepat sasaran. Dalam konteks wirausaha, karakter ini berarti seorang pengusaha tidak hanya melihat masalah sebagai hambatan, tetapi juga sebagai peluang untuk melakukan perbaikan, menciptakan inovasi, dan mengembangkan bisnis.
Ciri-ciri Problem-Solving Orientation
Berorientasi pada solusi: Fokus mencari jalan keluar daripada terus menyalahkan keadaan.
Berpikir kritis dan analitis: Mampu mengidentifikasi akar masalah sebelum mengambil keputusan.
Kreatif dan inovatif: Menemukan cara baru untuk mengatasi tantangan bisnis.
Adaptif: Mampu menyesuaikan strategi ketika kondisi pasar berubah.
Berani mengambil keputusan: Memilih solusi berdasarkan pertimbangan yang rasional dan informasi yang tersedia.
Pantang menyerah: Terus mengevaluasi dan memperbaiki solusi ketika cara pertama belum berhasil.
Contoh dalam Dunia Wirausaha
- Penjualanmenurun
Seorang pemilik usaha makanan mengalami penurunan penjualan. Alih-alih langsung menutup usahanya, ia mengevaluasi harga, kualitas produk, promosi, dan kebutuhan pelanggan, kemudian mencoba strategi pemasaran digital.
- Pengirimanpesanan terlambat
Pengusaha menemukan bahwa keterlambatan terjadi karena proses pengemasan tidak teratur. Ia membuat sistem pencatatan pesanan dan jadwal pengemasan agar proses kerja lebih efisien.
- Keluhanpelanggan meningkat
Pengusaha mengumpulkan umpan balik pelanggan, mencari penyebab keluhan, memperbaiki kualitas produk, dan meningkatkan pelayanan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.
Mengapa Karakter Ini Penting bagi Wirausahawan?
Karakter Problem-Solving Orientation penting karena membantu wirausahawan:
Mengatasi tantangan dan ketidakpastian dalam menjalankan bisnis.
Mengurangi risiko kerugian melalui keputusan yang tepat.
Meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pelanggan.
Mendorong inovasi produk maupun proses bisnis.
Menjaga keberlangsungan dan daya saing usaha.
Kesimpulannya adalah karakter Problem-Solving Orientation merupakan salah satu karakter penting dalam kewirausahaan karena mencerminkan kemampuan pengusaha untuk menghadapi masalah secara sistematis, kreatif, dan berorientasi pada hasil. Wirausahawan yang memiliki karakter ini tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, tetapi menjadikan masalah sebagai bahan evaluasi dan peluang untuk mengembangkan usahanya. Intinya, seorang wirausahawan yang memiliki Problem-Solving Orientation bukan hanya mampu menemukan masalah, tetapi juga mampu mengubah masalah menjadi solusi dan peluang bisnis.
Adaptability
Adaptability adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan cara berpikir, emosi, dan perilakunya ketika menghadapi perubahan, situasi baru, tuntutan yang berbeda, atau kondisi yang tidak pasti. Dalam konteks pekerjaan, adaptability tidak hanya berarti “mau menerima perubahan”, tetapi juga kemampuan untuk mengubah strategi, mempelajari hal baru, memecahkan masalah, serta tetap dapat menjalankan tugas secara efektif ketika kondisi berubah (Park & Park, 2019). Adaptability menjadi semakin penting karena lingkungan kerja dan kehidupan profesional terus mengalami perubahan, misalnya akibat perkembangan teknologi, perubahan organisasi, tuntutan pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi. Penelitian mengenai career adaptability menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi berkaitan dengan kemampuan individu dalam menghadapi tugas, transisi, dan perubahan dalam karier (Rudolph et al., 2017).
Aspek-Aspek Adaptability
Menurut para pakar adaptability dapat dipahami melalui beberapa kemampuan:
Fleksibilitas berpikir, mampu melihat situasi dari perspektif yang berbeda dan mengubah cara berpikir ketika cara sebelumnya tidak lagi sesuai.
Penyesuaian perilaku, mampu mengubah tindakan, strategi, atau cara bekerja sesuai dengan tuntutan situasi.
Regulasi emosi, mampu mengelola respons emosional ketika menghadapi perubahan, tekanan, ketidakpastian, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Konsep adaptability dalam literatur psikologi mencakup aspek kognitif, perilaku, dan emosional.
Kemauan belajar, bersedia memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru agar dapat menghadapi tuntutan yang berubah.
Kemampuan menghadapi ketidakpastian, mampu tetap mengambil tindakan dan menyesuaikan strategi meskipun hasil atau kondisi masa depan belum dapat diketahui dengan pasti.
Dalam konteks organisasi, penelitian menunjukkan bahwa adaptive performance mencakup perilaku seperti pemecahan masalah, menghadapi ketidakpastian atau stres, mempelajari tugas baru, serta menyesuaikan diri dengan orang, budaya, dan lingkungan kerja yang berbeda (Park & Park, 2019). Sebagai contoh, seorang karyawan yang awalnya menggunakan sistem kerja manual kemudian harus menggunakan aplikasi digital baru. Individu yang memiliki adaptability tidak hanya menerima perubahan tersebut, tetapi juga mempelajari sistem baru, mencari bantuan ketika mengalami kesulitan, mengubah cara kerjanya, dan tetap berusaha mencapai target pekerjaan.
Dengan demikian, adaptability dapat diringkas sebagai kemampuan untuk merespons perubahan secara fleksibel dan efektif dengan menyesuaikan pola pikir, emosi, perilaku, serta strategi yang digunakan. Kemampuan ini membantu individu menghadapi lingkungan yang dinamis tanpa harus selalu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan.
Karakter Adaptabilitas dalam Konteks Wirausaha
Adaptabilitas dalam wirausaha adalah kemampuan seorang wirausahawan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan situasi, kebutuhan pasar, teknologi, dan persaingan bisnis. Karakter ini membantu pengusaha tetap bertahan, menemukan peluang baru, dan mengembangkan usahanya meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Ciri-ciri karakter adaptabilitas dalam wirausaha
Fleksibel: Mampu mengubah strategi bisnis sesuai dengan kondisi pasar.
Terbuka terhadap perubahan: Bersedia mencoba cara baru untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan.
Cepat belajar: Mampu mempelajari keterampilan, teknologi, dan tren baru.
Kreatif dan inovatif: Mencari solusi baru ketika menghadapi masalah bisnis.
Tidak mudah menyerah: Mampu bangkit dan menyesuaikan strategi setelah mengalami kegagalan.
Peka terhadap kebutuhan konsumen: Mampu memahami perubahan selera dan harapan pelanggan.
Contoh adaptabilitas dalam dunia usaha
- Usahakuliner
Seorang pemilik warung yang sebelumnya hanya melayani pembelian langsung mulai menerima pesanan melalui aplikasi pesan antar dan media sosial untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
- Usahapakaian
Ketika tren fesyen berubah, pengusaha menyesuaikan model dan desain pakaian yang dijual berdasarkan minat konsumen.
- Usahadigital
Pengusaha yang awalnya memasarkan produk secara offline mulai menggunakan media sosial dan pemasaran digital untuk meningkatkan penjualan.
Mengapa adaptabilitas penting bagi wirausahawan?
Adaptabilitas penting karena dunia bisnis selalu mengalami perubahan. Dengan karakter ini, seorang wirausahawan dapat:
Menghadapi persaingan bisnis dengan lebih baik.
Menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen.
Mengatasi masalah dan risiko usaha.
Memanfaatkan peluang bisnis baru.
Menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan usaha.
Kesimpulan, karakter adaptabilitas merupakan salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang wirausahawan. Pengusaha yang adaptif tidak hanya mampu bertahan dalam perubahan, tetapi juga dapat menjadikan perubahan sebagai peluang untuk berinovasi dan mengembangkan bisnisnya. Intinya, wirausahawan yang adaptif adalah wirausahawan yang mampu menyesuaikan cara berpikir dan strategi bisnisnya sesuai dengan perubahan keadaan.
REFERENSI
Acar, S., Neumayer, M., Burnett, C. (2019). Social media use and creativity: Exploring the influences on ideational behavior and creative activity. Journal of Creative Behaviour, 0(0), 1-14. https://doi.org/10.1002/jocb.432
Anwar, M., Clauss, T., & Issah, W. B. (2022). Entrepreneurial orientation and new venture performance in emerging markets: The mediating role of opportunity recognition. Review of Managerial Science, 16, 769–796.
Ardichvili. Alexander, Cardozo. Richard, Ray. Sourav. 2003. A theory of entrepreneurial opportunity identification and development. The Journal of Business Venturing: A Journal Dedicated to Entrepreneurship provides a scholarly forum for sharing useful and interesting theories, narratives, and interpretations of the antecedents, mechanisms, and/or consequences of entrepreneurship. Volume 18, Issue 1, pages 105-123, (1 January 2003), https://doi.org/10.1016/S0883-9026(01)00068-4Get rights and content
Aven, T. (2016). Risk assessment and risk management: Review of recent advances on their foundation. European Journal of Operational Research, 253(1), 1–13. https://doi.org/10.1016/j.ejor.2015.12.023
Baron, R. A. (2006). Opportunity Recognition as Pattern Recognition: How Entrepreneurs “Connect the Dots” to Identify New Business Opportunities. Academy of Management Perspectives, 20, 104-119., https://doi.org/10.5465/amp.2006.19873412
Baron, R.A. and Ensley, M.D. (2006), “Opportunity recognition as the detection of meaningful
patterns: evidence from comparisons of novice and experienced entrepreneurs”,
Management Science, Vol. 52 No. 9, pp. 1331-1344., https://www.scribd.com/document/821958848/Baron-Ensley-2006
Basu, S., Munjal, S., Budhwar, P., & Clegg, J. (2022). Entrepreneurial adaptation in emerging markets: strategic entrepreneurial choices, adaptive capabilities and firm performance. British Journal of Management, 33(4), 1864–1886. https://www.researchgate.net/publication/356407949_Entrepreneurial_Adaptation_in_Emerging_Markets_Strategic_Entrepreneurial_Choices_Adaptive_Capabilities_and_Firm_Performance
Bateman, T. S., & Crant, J. M. (1993). The proactive component of organizational behavior: A measure and correlates. Journal of Organizational Behavior, 14(2), 103–118. https://doi.org/10.1002/job.4030140202
Beghetto, R. A. (2021). Creative learning: A fresh perspective on creativity and education. Cambridge University Press.
Chang, Y.-Y., & Chen, M.-H. (2020). Creative entrepreneurs’ creativity, opportunity recognition, and career success: Is resource availability a double-edged sword? European Management Journal, 38(5), 750–762. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0263237320300359?via%3Dihub, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0263237320300359
Constantine, W., Thedy, P. A., Claudia, J., Anggriawan, C., Angdris, J. F., & Ardyan, E. (2024). How Do Young Entrepreneurs Enhance Problem-Solving Skills and Quality Business Decision Making? Understanding the Driver Factors. Jurnal: Jurnal Entrepreneur dan Entrepreneurship, 13(2), 135–148. DOI: 10.37715/jee.v13i2.4901
Denckla, C. A., Cicchetti, D., Kubzansky, L. D., Seedat, S., Teicher, M. H., Williams, D. R., & Koenen, K. C. (2020). Psychological resilience: An update on definitions, a critical appraisal, and research recommendations. European Journal of Psychotraumatology, 11(1), 1822064. https://doi.org/10.1080/20008198.2020.1822064
de Terte, I., Stephens, C., & Horwood, J. (2019). Towards a transversal definition of psychological resilience: A literature review. Medicina, 55(11), 745. https://doi.org/10.3390/medicina55110745
Dweck, C. S., & Yeager, D. S. (2019). Mindsets: A view from two eras. Perspectives on Psychological Science, 14(3), 481–496. https://doi.org/10.1177/1745691618804166
Dweck, C. S. (2016). Mindset: The new psychology of success. Random House. https://www.proemergency.com/assets/dokumen/ebook_platinum/20231124092918-Mindset_The_New_Psychology_of_Success.pdf
Dweck, C. S., & Leggett, E. L. (1988). A social-cognitive approach to motivation and personality. Psychological Review, 95(2), 256–273. https://doi.org/10.1037/0033-295X.95.2.256. https://mathedseminar.pbworks.com/f/Dweck+&+Leggett+(1988)+A+social-cognitive+approach+to+motivation+and+personality.pdf
Dyer, J. H., Gregersen, H. B., & Christensen, C. (2008). Strategic entrepreneurship., Journal, 2(4), 317–338., DOI: https://doi.org/10.1002/sej.59 .
Frese, M., & Fay, D. (2001). Personal initiative: An active performance concept for work in the 21st century. Research in Organizational Behavior, 23, 133–187. https://doi.org/10.1016/S0191-3085(01)23005-6. http://www.evidence-based-entrepreneurship.com/content/publications/065.pdf
Hisrich, R. D., & Ramadani, V. (2017). Effective Entrepreneurial Management: Strategy, Planning, Risk Management, and Organization. Springer.
Kim, J. Y., Choi, D. S., Sung, C. S., & Park, J. Y. (2018). The role of problem solving ability on innovative behavior and opportunity recognition in university students. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity.
Korber, S., & McNaughton, R. B. (2018). Resilience and entrepreneurship: A systematic literature review. International Journal of Entrepreneurial Behavior & Research, 24(7), 1129–1154.
Shania Krisan Pandumpi. Shania. K., Sri Tiatri. Sri., & Jap Tji Beng. Jap Tji. 2023. Kreativitas pada mahasiswa: Apakah dipengaruhi oleh penggunaaan media sosial dan Creative self efficacy? Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni ISSN 2579-6348 (Versi Cetak) Vol. 7, No. 3, Oktober 2023: hlm 511-520
Kuratko, D. F. (2016). Entrepreneurship: Theory, process, and practice (10th ed.). Cengage Learning.
Linton, G. (2019). Innovativeness, risk-taking, and proactiveness in startups: A case study and conceptual development. Journal of Global Entrepreneurship Research, 9, 20
Liu, J. J. W., Ein, N., Gervasio, J., Battaion, M., Reed, M., & Vickers, K. (2020). Comprehensive meta-analysis of resilience interventions. Clinical Psychology Review, 82, 101919. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2020.101919
Liu, W., Pan, Y., Luo, X., Wang, L., & Pang, W. (2017). Active procrastination and creative ideation: The mediating role of creative self-efficacy. Personality and Individual Differences, 119, 227-229. https://doi.org/10.1016/j.paid.2017.07.033
Liu, C. C., Lu, K. H., Wu, L. Y, & Tsai, C. C. (2016). The impact of peer review on creative self-efficacy and learning performance in web 2.0 Learning Activities. Educational Technology & Society, 19(2), 286-297. https://www.jstor.org/stable/jeductechsoci.19.2.286
Lucas, B. (2016). A five-dimensional model of creativity and its assessment in schools. Applied Measurement in Education, 29(4), 278–290. https://doi.org/10.1080/08957347.2016.1209206
Lumpkin, G. T., & Dess, G. G. (1996). Clarifying the entrepreneurial orientation construct and linking it to performance. Academy of Management Review, 21(1), 135–172. https://doi.org/10.5465/amr.1996.9602161568
Moreno dan Casillas (2008). Moreno, A. M., & Casillas, J. C. (2008). Entrepreneurial orientation and growth of SMEs: A causal model. Entrepreneurship Theory and Practice, 32(3), 507–528.
Morris, S., Carlos, C., Kistruck, G. M., & Lount, R. B. Jr. (2023). The impact of growth mindset training on entrepreneurial action among necessity entrepreneurs: Evidence from a randomized control trial. Strategic Entrepreneurship Journal, 17(3), 671–692.
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2024). PISA 2022 assessment and analytical framework: Mathematics, reading, science, creative thinking and financial literacy. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/dfe0bf9c-en. https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/publications/reports/2023/08/pisa-2022-assessment-and-analytical-framework_a124aec8/dfe0bf9c-en.pdf
Park, S., & Park, S. (2019). Employee adaptive performance and its antecedents: Review and synthesis. Human Resource Development Review, 18(3), 294–324. https://doi.org/10.1177/1534484319836315
Priyadi. Hilman, Mulyadi, Ana Susi. 2024. The Concept of Entrepreneurship in a Business Perspective, Indonesian Journal of Applied and Industrial Sciences (ESA) Vol. 3, No. 1, 2024 : 119 – 128, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Renn, O. (2008). Risk governance: Coping with uncertainty in a complex world. Earthscan
Rauch, A., & Frese, M. (2007). Let’s put the person back into entrepreneurship research: A meta-analysis on the relationship between business owners’ personality traits, business creation, and success. European Journal of Work and Organizational Psychology, 16(4), 353–385.
Rudolph, C. W., Lavigne, K. N., & Zacher, H. (2017). Career adaptability: A meta-analysis of relationships with measures of adaptivity, adapting responses, and adaptation results. Journal of Vocational Behavior, 98, 17–34. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2016.09.002
Rudolph, C. W., Lavigne, K. N., Katz, I. M., & Zacher, H. (2017). Linking dimensions of career adaptability to adaptation results: A meta-analysis. Journal of Vocational Behavior, 102, 151–173. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2017.06.003
Runco, M. A., & Acar, S. (2019). Divergent thinking as an indicator of creative potential. Creativity Research Journal, 31(1), 1–9. University of Georgia , Athens
Runco, M. A., Plucker, J. A. & Lim, W. (2001). Development and psychometric integrity of a measure of ideational behavior. Creativity Research Journal, 13, 393–400. https://doi.org/10.1207/S15326934CRJ1334_16
Saragih, Rintan. 2017. Membangun usaha kreatif, inovatif dan bermanfaat melalui penerapan kewirausahaan sosial, Jurnal Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi, Uninversitas Methodist Indonesia.
Tittel, A., & Terzidis, O. (2020). Entrepreneurial competences revised: Developing a consolidated and categorized list of entrepreneurial competences. Entrepreneurship Education, 3, 1–35.
Wang, H., Wu, W., & Zhang, C. (2025). Bouncing back from failure: Digital technology capability, entrepreneurial alertness, and reentry intention. Asia Pacific Journal of Management, 42, 197–232.
Zhao, H., & Wibowo, A. (2021). Entrepreneurship resilience: Can psychological traits of entrepreneurial intention support overcoming entrepreneurial failure? Frontiers in Psychology, 12, 707803.
