Site icon Kampussemarang.com

Program S2 dan S3 FEB UGM Gelar Workshop Penulisan Ilmiah

ket foto: Rektor Unisbank (dua dari kiri) saat memberi cinderamata pada Prof Jogiyanto Hartono dan Prof Mudrajat Kuncoro (kanan) di sela workshop. (foto ks01)

SEMARANG (kampussemarang.com)- Rektor Unisbank Semarang  Dr Hasan Abdul Rozak SH CN MM membuka pelatihan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Pada Jurnal Internasional Bereputasi yang diselenggarakan Program Master dan Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis FEB) UGM Yogya bekerjasama dengan Unisbank dan Ikatan Alumni Magister dan Doktor FEB UGM wilayah Jateng di kampus Unisbank, Senin (06/02/201). Pembicara workshop yang diikuti sedikitnya 200 dosen PTN/S di Semarang dan sekitarnya ini menambil pembicara 2 guru besar UGM Prof Mudrajat Kuncoro MSoc Sc PhD dan Prof Jogiyanto Hartono MSi M MBA PhD.

“Sejalan dengan keluarnya Permenristekdikti no 20 tahun 2017 tentang kewajiban penulisan jurnal ilmiah nasional dan internasional bagi guru besar dan dosen lector kepala, maka pelatihan ini sangat penting diikuti” ujar Rektor Unisbanl.

Senada dengan Rektor Unisbank, Ketua Panitia workshop yang juga alumni S-3 FEB UGM Prof Dr Andreas Lako (dosen Unika Soegijapranata Semarang) menyatakan pentingnya kemampuan dosen dalam hal menulis karya jurnal ilmiah internasional. Prof Andreas Lako berharap ke depannya ada sinergi antara alumni Magister dan Doktor FEB UGM dengan pihak UGM dan perguruan tinggi lain. Bentuk sinergi di antaranya menulis buku bersama, meneliti dan menulis jurnal ilmiah bersama dan lain lain.

Sementara itu pembicara workshop yang juga pengelola program S2 dan S3 FEB UGM Prof Jogiyanto Hartono MSi M MBA PhD dan guru besar UGM Prof Mudrajat Kuncoro MSoc Sc PhD menyatakan bagi sejumlah dosen guru besar dan dosen bergelar (dengan jabatan fungsional) Lektor Kepala peraturan menristekdikti no 20 tahun 2017 yang mensyaratkan guru besar dan lector kepala harus memiliki menghasilkan sejumlah karya ilmiah berupa jurnal internasional dan jurnal nasional  dalam kurun 3 tahun merupakan hal yang mudah. Namun tidak menutup mata kalau akan sangat banyak dosen merasa sangat berat dengan aturan baru Menristekdikti yang disertai ancaman penghentian tunjangan sertifikasi dosen dan tunjangan guru besar serta lector kepala ini. Mereka ada yang berat karena kemenristekdikti akan mengadakan evaluasi pertama pada November 2017 mendatang, padahal peraturan baru saja digulirkan.

Kedua guru besar UGM ini minta agar para dosen tidak terlalu curiga dengan peraturan  bagi para dosen ini. Keduanya yakin pemerintah memiliki tujuan baik di antaranya mendongkrak jumlah jurnal ilmiah internasional Indonesia bisa menjadi tertinggi di Negara Asean dalam beberapa tahun mendatang.

“Hal yang mungkin agak dilupakan kemenristekdikti  saat mengeluarkan peraturan baru ini terkait dengan kesulitan atau kendala di antaranya dosen masih terlalu banyak jam mengajarnya sehingga tidak sempat nulis dan meneliti, kesulitan membuat jurnal berbahasa Inggris, masih dominannya budaya lisan dibanding budaya tulis di masyarakat Indonesia termasuk di kalangan dosen serta adanya jutaan rupiah dana yang harus dikeluarkan untuk bisa muncul tulisannya di jurnal internasional.  Belum lagi adanya perbedaan paradigma, dimana sertifikasi dosen di jaman Presiden SBY merupakan paradigm kesejehteraan sedangkan paradigm di era Presiden Jokowi sertifikasi dan jabatan fungsional harus berbasis kinerja. Dosen tampaknya masih kaget perubahan paradigma ini dan dinggap terlalu cepat karena baru saja ditetapkan, November nanti sudah dievaluasi” ujar Prof Jogiyanto.

Di sisi lain menurut Prof Jogiyanto, mengingat jumlah dosen dengan jabatan fungsional lektor kepala di Indonesia jumlahnya sangat banyak maka diperlukan pula upaya pemerintah banyak menambah jurnal nasional yang terakreditasi karena saat ini jumlah jurnal jenis ini masih sangat minim, bahkan tiap tahun cenderung selalu menyusut jumlahnya karena banyak yang semua terakreditasi menjadi tidak terakreditasi. (KS01)