
ket foto:Prof Singgih saat mengisi seminar tentang pendidikan sejarah di IVET Semarang ( foto dok)
SEMARANG (kampussemarang.com)- Wakil Rektor III IKIP Veteran (IVET) Semarang Drs Tri Leksono Prihandoko SKom MPd Kons dan Kaprodi Pendidikan Sejarah IVET Dra Zusrotin MPd membuka “Temu Alumni dan Seminar Nasional Pendidikan Sejarah” yang diselenggarakan IKIP Veteran Semarang di Semarang belum lama ini.
Pada seminar tersebut, sejumlah pembicara ditampilkan di antaranya Guru Besar Sejarah Undip Prof Dr Singgih Tri Sulistyono, Estu Pitarto SPd (praktisi sejarah) dan Drs Y Suharyanto MPd (dosen IVET).
Prof Singgih Sulistiyono menyatakan pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah saat ini merupakan media sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme kepada generasi muda. Hal ini mengingat berbagai ketegangan, konflik dan kekerasan sosial di Indonesia sebagian besar bersumber dari pelanggaran terhadap nilai nilai multikulturalisme yang ada.
Lebih lanjut menurut Prof Singgih, diakui atau tidak, senang atau tidak, merebaknya ketegangan, konflik, kekerasan sosial di Indonesia bersumber dari intoleransi SARA sebagai salah satu kekurangberhasilan penanaman nilai multikulturalisme di sekolah. Jika kegagalan ini seluruhnya ditimpakan pada sekolah maka kesalahan diarahkan pada mata pelajaran seperti sejarah, budi pekerti, pendidikan Pancasila, dan Kewarganegaraan. Padahal kesalahan itu ada pada semua pihak, tidak hanya sekolah.
Sementara itu kepada pers, Kaprodi Pendidikan Sejarah IVET Semarang Dra Zusrotin MPd menyatakan banyak nilai multikulturalisme pada siswa mulai luntur dilanda kemajuan jaman. Termasuk karena serbuan gadget yang menjadi gaya hidup utama pada anak dan siswa. Padahal nilai multikulturalisme itu sendiri sudah ada dan dipraktekkan masyarakat Indonesia secara baik sejak jaman Sriwijaya dulu.
“Anak anak atau siswa harus lebih mau memperhatikan buku dan belajar. Saat ini mereka lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain dengan gadget dan kalau ujian sangat mengandalkan google serta tidak akan bisa banyak menjawab soal kalau tidak boleh membuka google” ujar Zusrotin MPd. (Ks01)
