Site icon Kampussemarang.com

Unimus Gelar Dialog Interaktif Dukung Pemilu Damai 2019

ket foto: suasana dialog pemilu damai (foto dok)

SEMARANG (kampussemarang.com)-  Pemilihan Umum (Pemilu) serentak berupa Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) dilaksanakan tahun 2019 dan semua komponen bangsa harus menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Untuk  terwujudnya penyelenggaraan Pileg dan Pilpres yang aman, damai, dan berkeadilan. Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) sebagai salah satu bagian komponen bangsa bertekad mendukung Pemilu yang damai, mengedukasi dan bermartabat.

Upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar Dialog Interaktir “Membangun Karakter Bangsa, Mencegah Perpecahan NKRI Menuju Pemilu 2019 Aman dan Damai” di Patra Semarang Hotel and Convention Kamis (11/10/2018).  Dialog menampilkan 4 pembicara Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Dr KH Rozikhan MAg, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah sekaligus pengurus BNPT dan pengurus MUI Jateng Dr KH Fadlolan Musyaffa’ LC MA  serta Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah M Fajar SAK Arif SH MH.

Dibuka oleh Rektor Unimus, acara diikuti 200 orang terdiri tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan pondok pesantren, perwakilan BEM dan mahasiswa di kota Semarang, organisasi pemuda dan akademisi. Dalam sambutannya Prof Masrukhi memaparkan Pemilu 2019 harus secara langsung dan damai. Semua komponen bangsa harus bisa mendukung pelaksanaan Pemilu 2019 dengan sebaik-baiknya.

“Diskusi digelar agar mereka bisa mengekspresikan dirinya sebagai warga negara dan warga bangsa yang baik, tidak hanya berpartisipasi memberikan suara tetapi lebih jauh dapat mengedukasi masyarakat menjadi pemilih yang baik serta mengawal pelaksanaan Pemilu dengan sebaik-baiknya” papar Prof Masrukhi.

Dalam paparan materinya Prof Masrukhi juga menyampaikan jika masyarakat Indonesia menjalankan kehidupan bermasyarakat bedasarkan Pancasila maka kedamaian akan terselenggara termasuk pemilu aman dan damai dalam konstitusi, kehidupan beragama sudah dijamin. “Dari berbagai agama maka Pancasila menjadi titik temu, titik tuju negara Indonesia adalah masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila” tandasnya.

Terkait  antisipasi adanya kampanye hitam, penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian Rektor Unimus menandaskan ada dua hal yang dilakukan yaitu preventif melalui edukasi tentang bahaya hoax juga kampanye hitam serta kampus selalu memantau akun-akun media sosial di kalangan mahasiswa.

Sesi pertama diskusi dibuka Wakil Ketua PWM Jateng Dr KH Rozikhan MAg memaparkan tentang “Keberagaman  Dalam Islam &  Pemilu Damai”.  Mensikapi banyaknya keberagaman di masyarakat. ujar Rpzhikan, ada beberapa hal yang penting diperhatikan agar tercipta pemilu damai antara lain tidak superior, tidak memaksa orang lain, tolong menolong dalam kebaikan, komunikasi beradab juga menghargai dan  menghormati.

Pembicara kedua Dr KH Fadlolan Musyaffa’ LC MA memaparkan untuk meningkatkan partisipasi pemilih. perlu memberikan wawasan kepada remaja agar mengikuti pesta demokrasi secara baik, jangan ‘golput’ karena golput artinya orang yang tidak  memiliki tanggung jawab sebagai warga negara.

“Saat ini kita sedang mengalami “desintegrasi” yaitu dipecah belah, antara lain oleh kaum formalis yang berusaha memaksakan ideologi untuk dapat masuk kedalam ranah formalitas (ranah Pemilu). Apabila pemetaan atau pemakasaan tidak mampu masuk ke ranah formalitas maka akan menyebarkan berita hoax dan kekerasan atau revolusi. Maka desintegrasi harus dipecahkan dengan cara yang damai dicarikan solusi, agama bisa menjadi solusi karena agama apapun secara universal mengajarkan kepada kebaikan, kedamaian dan persaudaraan” tegas Dr Fadlolan Musyafa’.

Lebih lanjut menurutnya, kalau diselesaikan dengan cara itu maka semuanya akan jadi lebih baik. Para pemuka agama berbicara untuk menemukan titik temu dalam hal kedamaian, NKRI adalah titik temu dari agama yang ada di Indonesia. Semua agama harus menjaga kerukunan dan kedamaian, karena jika terjadi instabilitas maka mudah dipecah belah. Agama dan negara ibarat mata uang tidak dapat dipisahkan.

Mengakhiri sesi diskusi Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah memaparkan kegiatan pemilu adalah upaya kegiatan untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kita semua diberi hak dan berdaulat untuk menentukan masa depan negara, Pemilu merupakan mandat konstitusi yang menjadi bagian kita semua. Sebagai bagian merawat demokratisasi Bawaslu melakukan pengawasan partisipasik. Melalui pengawasan partisipatik diharapkan keterlibatan pemilih bukan hanya sekedar mencoblos saja. Yang di hindari adalah Politik berbiaya tinggi berupa politik uang sehingga kegiatan yang harus diupayakan adalah mengajak para pemilih atau individu yang peduli untuk menolak politik uang. Semua komponen masyarakat harus terlibat dalam mendukung pemilih dengan menggunakan hak suara juga melakukan pengawasan terhadap politik uang dan ada atau tidaknya kecurangan” tandasnya.

Dipandu oleh moderator Dr R Djoko Setyo Hartono sesi presentasi diakhiri dengan diskusi yang cukup interaktif. Dialog Interaktif ditutup dengan deklarasi Pemilu 2019 “Damai, Mengedukasi dan Bermartabat” oleh perwakilan beberapa unsur dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi juga mahasiswa diwakili Drs H Musman Tholib MAg (Muhammadiyah), Sania Aini (NU), Dr Suprayogi (unsur dosen), HM. Najih Murod (perwakilan pesantren) dan Luthfiana Kartika Dewi (unsur mahasiswa). Deklarasi diikuti seluruh peserta dialog interktif. Melalui deklarasi peserta dialog menyuarakan janji menjaga keutuhan NKRI; menciptakan situasi yang aman, mengedukasi dan bermartabat dalam rangka mewujudkan kedaulatan pemilih, melaksanakan pemilu tanpa hoax, politisasi uang dan SARA, serta: tunduk dan patuh terhadap hukum yang berlaku. (ks01)

ket foto: Rektor Unimus saat membuka dialog pemilu damai (foto dok)