
ket foto: Direktur Polimarin Dr Sri Tutie Rahayu MSi saat sebagai moderator webinar ( foto dok)
SEMARANG (kampussemarang.com)- Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang bekerjasama dengan Forum Direktur Pendidikan Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) menggelar seminar online (webinar) gratis lewat Zoom dan live streaming You Tube, Jumat sore (12/06/2020).
Seminar dengan moderator Direktur Polimarin Dr Sri Tutie Rahayu MSi ini menampilkan pembicara kunci Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI Wikan Sakarinto ST MSc PhD. Sedangkan pembicara terdiri Dr Ir Priyono Eko Sanyoto DEA (Direktur Politeknik Negeri Batam), Dr Ir Rachmad Imbang Tritjahjono MT (Direktur Politeknik Negeri Bandung), dan Suprapto SE MM (Wakil Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).
Seminar “Sinergisitas Pendidikan Vokasi Unggul dengan Dunia Usaha Menjadikan Pendidikan Politeknik Kelas Dunia” ini penuh keakraban dan semangat membangun dalam mengembangkan dunia pendidikan vokasi bagi seluruh pendidikan vokasi di Indonesia baik sekolah menengah kejuruan (SMK), Politeknik dan Sekolah Vokasi di universitas. Baik pembicara kunci maupun 3 pembicara lainnya dipandu moderator Direktur Polimarin Dr Sri Tutie Rahayu MSi terlibat diskusi sangat interaktif dengan seluruh peserta, sekitar 900 peserta aktif. Seminar juga diikuti pula para pimpinan sekolah dan perguruan tinggi vokasi se-Indonesia, para pejabat di lingkungan TNI AL seperti Komandan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya Laksamana Pertama TNI Dr Ir Avando Bastari MPhil dan Kapokdos STTAL Kol Laut (P) R Bambang Ispri B,ST MSi dan Command Center Kabupaten Lamongan, para dosen perguruan tinggi dan masyarakat umum. Mereka semua sangat apresiasi akan pelaksanaan webinar dengan host Polimarin Semarang.
ket foto: STTAL Surabaya dipimpin Komandan Laksamana Pertama TNI Dr Ir Avando Bastari MPhil juga mengikuti dengan seksama webinar. (foto dok)Sejumlah poin penting terkait pengembangan pendidikan vokasi ke depan disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud maupun para nara sumber. Di antaranya, tuntutan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) pada dunia pendidikan, termasuk sekolah maupun pendidikan tinggi (PT) vokasi, saat ini tidak lagi pada tataran link and match. Namun sudah lebih jauh lagi yaitu lulusan harus sudah siap plug and play alias langsung “tancap dan jalan/main” kalau diibaratkan perangkat elektronik.
Masalah link and match sekolah dan PT termasuk PT vokasi dengan DUDI sudah sangat lama digalakkan dan dilakukan di era Menteri Wardiman yang dilanjutkan pula ke era-era menteri setelahnya. Sehingga saat ini sudah harus pada tataran selanjutnya yaitu plug and play.
Poin lain, hard skill sebaiknya tidak terlalu sangat dipentingkan karena diyakini lima tahun mendatang hard skill akan usang sehingga yang utama perlu ditanamkan adalah soft skills agar lulusan menjadi pribadi pembelajar mandiri sepanjang hayat.
Syarat mahasiswa lulus dari pendidikan vokasi di Indonesia diharapkan memiliki ijazah, bersertifikat kompetensi, kecakapan Bahasa Inggris dengan nilai tinggi (TOEIC minimal 800 atau TOEFL minimal 550, atau juga IELTS minimal 660). Juga mahasiswa bisa mennghasilkan produk inovasi dan prestasi mahasiswa dari berbagai bidang diakui dalam kurikulum (olahraga, seni, inovasi, dan lain lain).
ket foto: Screen Shoot Webinar. Direktur Polimarin (baris atas, tengah), Dirjen Pendidikan Vokasi (baris bawah, tengah) dan para pembicara webinar. (foto dok)
Pada webinar tersebut dibahas pula tentang kemungkinan rencana kenaikan pangkat dosen Pendidikan Vokasi (pendidikan profesional) yang selama ini sama persis dengan pendidikan akademik diusahakan dibedakan. Misalnya untuk kenaikan pangkat pengajar pendidikan vokasi minimal 4 tahun sekali dosen akan dimagangkan ke dunia industri sebelum naik pangkat.Juga persyaratan jurnal internasional ber scopus atau index lainnya mungkin tidak lagi menjadi syarat utama. Juga ada kemungkinan ke depan Kemendikbud tidak akan melakukan pemeringkatan pendidikan vokasi atau klusterisasi, semua pendidikan vokasi, termasuk politeknik, harus mempunyai kualitas yang sama dan merata seperti halnya di Jerman. sehingga akan sulit dijawab kalau ada pertanyaan pendidikan vokasi (SMK, Politeknik, Sekolah Vokasi dll) yang paling baik di Indonesia? Maka akan sulit dijawab karena semua baik dan selevel. Serta sejumlah pemikiran ke depan lainnya agar Pendidikan Vokasi se Indonesia menjadi baik dan berkelas dunia.
Sementara itu saat pembukaan webinar Direktur Polimarin Semarang Dr Sri Tutie Rahayu MSi menyatakan pendidikan merupakan salah satu program pemerintah yang perlu diperhatikan secara serius. Pendidikan vokasi sebagai isu penting peningkatan kualitas pendidikan dan SDM dalam periode ke-2 pemerintahan Presiden Jokowi. Melalui kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi, pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas, inovasi, serta daya saing bangsa.
“Sebagaimana pernah disampaikan Presiden Jokowi, dalam menghadapi revolusi industri 4.0, bonus demografi jadi perhatian khusus untuk mempersiapkan tenaga kerja yang bersaing di pasar global. Bahkan, Presiden kerap kali menegaskan urgensi peningkatan daya saing SDM dan revitalisasi pendidikan vokasi secara terpadu untuk menyongsong bonus demografi. Revitalisasi pendidikan vokasi diartikan lebih pada menyiapkan tenaga kerja berdaya saing, terampil, bermutu, serta relevan dengan tuntutan dunia kerja. Targetnya, Indonesia dapat menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh dunia pada 2030” ujar Dr Sri Tutie Rahayu MSi.
Lebih lanjut menurutnya, perguruan tinggi vokasi bukanlah bukanlah perguruan tinggi kelas dua, seperti rumor yang masih beredar sampai saat ini di masyarakat. Tetapi PT vokasi adalah perguruan tinggi ilmu terapan di mana mahasiswa betul-betul dipersiapkan untuk siap bekerja. Kesiapan mahasiswa bekerja ini sudah dibekali oleh perguruan tinggi vokasi di kuliah maupun ketika magang usaha dan industri (DUDI) yang bekerja sama dengan PT vokasi.
“ Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) dengan slogan bela negara ini merupakan salah satu perguruan tinggi vokasi di bawah Kemendikbud RI yang banyak bekerjasama dengan industri maupun lembaga pendidikan di Indonesia maupun luar negeri seperti Jerman” tandas Direktur Polimarin. (ks01).
ket foto: Command Center Kabupaten Lamongan juga mengikuti seksama webinar (foto dok)
