
SEMARANG (kampussemarang.com)- Dosen Sekolah Vokasi Undip, Dr. Mohamad Endy Julianto, ST, MT, membuat kajian mengenai masa depan Indonesia yang tidak boleh lagi bergantung pada impor minyak, impor pangan, dan eksploitasi air tanpa kendali.
Indonesia harus bergerak menuju satu cita-cita besar yakni swasembada energi, swasembada pangan, dan swasembada air.
Pemikiran ini dikemukakan oleh Dr Mohamad Endy Julianto,yang merupakan Dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri/ TRKI Vokasi Universitas Diponegoro Senin 6 April 2026, di Kampus Undip Tembalang.
“Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, harga minyak dunia terus melonjak, ancaman krisis pangan semakin nyata, dan ketersediaan air bersih mulai menjadi persoalan serius,”kata dia.
Di sisi lain, Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa: lahan subur, sinar matahari melimpah, laut yang luas, biomassa terbesar di Asia Tenggara, serta sumber daya manusia yang mampu mengubah krisis menjadi kebangkitan.
Inilah yang sedang dikaji secara mendalam oleh Dr Mohamad Endy Julianto.
Menurutnya berbagai hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Energi menentukan kemampuan petani memproduksi pangan. Pangan membutuhkan air. Air membutuhkan energi untuk dipompa, diolah, dan didistribusikan.
Jika satu sektor runtuh, sektor lainnya akan ikut terguncang. Karena itu, Indonesia memerlukan strategi terpadu yang tidak hanya memadamkan krisis hari ini, tetapi membangun ketahanan bangsa puluhan tahun ke depan.
“Saya memulai kajian dari persoalan energi,”imbuh dia.
Ketika harga minyak dunia melonjak di atas 100 dolar per barel, Indonesia langsung merasakan dampaknya: subsidi BBM membengkak, biaya transportasi naik, harga pangan ikut melonjak, dan daya beli masyarakat menurun.
Namun bagi dia, jawaban terbaik bukan terus menambah subsidi. Solusi yang jauh lebih cerdas adalah membangun sistem energi yang mandiri.
Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk menjadi raksasa energi terbarukan dunia. Sawit dapat diolah menjadi biodiesel B40 hingga B50 untuk truk, bus, kapal, alat berat, dan genset.
Tebu, singkong, molase, dan sorgum dapat diubah menjadi bioetanol E10 hingga E20 sebagai pengganti bensin. Minyak jelantah dan biomassa dapat diproses menjadi green diesel dan bioavtur.
Bahkan limbah pertanian yang selama ini dibakar begitu saja sebenarnya dapat menjadi sumber energi baru.
Dia menggambarkan masa depan Indonesia yang sangat menakjubkan: motor listrik mendominasi jalan-jalan kota, bus dan kendaraan logistik menggunakan baterai, truk berat dan industri memakai hidrogen, sementara kapal antarpulau menggunakan biodiesel dan sistem hybrid. Kereta listrik menghubungkan pelabuhan, kawasan industri, dan sentra pangan dari Sumatera hingga Sulawesi.
Bagi Dr Mohamad Endy Julianto, kendaraan listrik bukan sekadar tren modern, melainkan strategi nasional untuk mengurangi impor bensin. Indonesia memiliki cadangan nikel yang sangat besar untuk memproduksi baterai. Jika motor dan mobil listrik dikembangkan secara masif, konsumsi BBM nasional dapat turun drastis.
Bahkan dirinya menilai bahwa konversi jutaan sepeda motor ke motor listrik adalah langkah tercepat dan paling realistis untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis energi.
Namun dia juga mengingatkan bahwa swasembada energi tidak boleh merusak swasembada pangan. Jangan sampai lahan pertanian produktif justru berubah seluruhnya menjadi kebun energi. Karena itu, biofuel harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan: memanfaatkan limbah, lahan marginal, minyak jelantah, biomassa, dan teknologi yang tidak mengganggu produksi pangan utama.
Di sinilah kajian itu memasuki dimensi kedua yakni swasembada pangan.
Menurut Dr. Mohamad Endy Julianto, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan produksi beras. Swasembada pangan masa depan berarti membangun sistem pangan yang beragam, tangguh, dan tahan terhadap perubahan iklim. Indonesia harus mengembangkan sorgum, singkong, jagung, sagu, kedelai, hingga protein laut sebagai penyangga pangan nasional.
Ditekankan bahwa teknologi harus masuk ke sektor pertanian. Irigasi presisi, sensor tanah, pupuk organik, greenhouse, hingga energi surya untuk pompa air harus menjadi bagian dari pertanian modern Indonesia. Petani tidak boleh lagi bergantung sepenuhnya pada solar mahal untuk menjalankan pompa, traktor, dan mesin pascapanen.
Bayangkan sawah yang dipompa dengan panel surya, lahan jagung yang menggunakan irigasi tetes otomatis, serta desa-desa yang memiliki pembangkit biomassa sendiri dari limbah sekam, jerami, dan limbah ternak. Inilah gambaran Indonesia masa depan yang dikaji oleh Dr. Mohamad Endy Julianto: desa menjadi pusat produksi energi sekaligus pusat produksi pangan.
Tetapi seluruh mimpi besar itu tidak akan mungkin terwujud tanpa swasembada air.
Dia menegaskan bahwa air adalah fondasi utama peradaban. Tanpa air, tidak ada energi, tidak ada pangan, dan tidak ada kehidupan. Indonesia memang kaya hujan, tetapi distribusi air sangat tidak merata. Pada musim hujan terjadi banjir, sedangkan pada musim kemarau banyak daerah justru mengalami kekeringan.
Karena itu,ditawarkan strategi nasional air yang jauh lebih visioner. Indonesia harus membangun lebih banyak embung, waduk, dan sistem pemanenan air hujan. Sungai harus dipulihkan. Hutan di daerah tangkapan air wajib dijaga. Teknologi daur ulang air limbah industri dan rumah tangga harus diperluas. Bahkan air laut di wilayah pesisir dapat diolah menjadi air bersih melalui teknologi desalinasi yang didukung energi surya.
Menurutnya, masa depan Indonesia bukan hanya tentang kota besar yang megah, tetapi tentang desa-desa yang mandiri: memiliki listrik sendiri, air sendiri, dan pangan sendiri. Desa-desa seperti itulah yang akan menjadi benteng bangsa ketika dunia mengalami krisis energi, krisis pangan, dan krisis air.
Dr. Mohamad Endy Julianto menutup kajiannya dengan sebuah pesan yang sangat kuat dan menggugah nurani: Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang kaya sumber daya, tetapi miskin kemandirian. Indonesia harus berani mengubah sawit menjadi energi, limbah menjadi listrik, air hujan menjadi cadangan kehidupan, dan pertanian menjadi kekuatan strategis bangsa.
Karena sesungguhnya, swasembada energi, swasembada pangan, dan swasembada air bukan sekadar program pemerintah. Itu adalah jalan besar menuju Indonesia yang berdaulat, kuat, dan tidak pernah lagi takut menghadapi krisis dunia.(Ks01)
Kampussemarang.com Portal Berita Online – Informasi Seputar Berita Khusus Kampus Tentang Pendidikan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dari Berbagai Kampus di Kota Semarang

