Pentingnya Penguatan Self-Regulatory Skills dan Literasi Pembelajar di Masa Pandemi

ket foto: Testiana Deni Wijayatiningsih (foto dok)

SEMARANG (kampussemarang.com)- Pandemi Covid-19 memaksa semua pembelajaran baik di sekolah formal dan non formal untuk melakukan daring atau pembelajaran online baik synchronous maupun asynchronous learning. Adapun LMS atau Learning Management System yang digunakan pada synchronous adalah aplikasi zoom, google meet, live conference, live Facebook, live Instagram, live dan You Tube. Sedangkan asynchronous lebih banyak menggunakan google classroom, Edmodo, e-learning, whats app grup, dan email.

Para guru atau pendidik dipaksa untuk belajar lebih kreatif dalam pembelajaran. Beberapa orang tua mengeluhkan dengan sistem belajar yang membingungkan dan beberapa memang masih belum paham dengan daring. Fenomena ini mempengaruhi pola belajar pembelajar, manajemen diri dan aktivitas pembelajar, serta literasi mereka. Selain itu, para pendidik diwajibkan mempersiapkan pola pembelajaran daring yang menarik.  Hal ini terjadi dikarenakan munculnya peraturan pemerintah terkait sistem pembelajaran di masa pandemik.

Berdasarkan peraturan pemerintah khususnya Mendikbud baru-baru ini, dinyatakan bahwa wilayah yang sudah berada di zona hijau diperbolehkan untuk belajar di sekolah dengan protokol kesehatan yang tertib, wilayah yang berzona kuning dan wilayah yang berzona merah dilarang membuka kelas serta wajib belajar daring di rumah. Merujuk pada fenomena dan peraturan pemerintah terkait dampak COVID-19, pembelajaran sistem daring perlu memperhatikan berbagai faktor yang nantinya akan mempengaruhi manajemen diri dan aktivitas pembelajar  (self-regulatory skills) dan penguatan literasi pembelajar.

ket foto: Testiana Deni (kanan) saat menerima sertifikat usai sebagai pembicara di seminar internasional tentang pengajaran bahasa Asia TEFL 2019 di Bangkok Thailand. (foto dok)

 

Penting

“Mengapa ini penting? Alasan utamanya adalah ketika pembelajar belajar daring dari rumah, guru atau pendidik tidak dapat serta merta memahami kemampuan manajemen diri dan aktivitas mereka serta juga minat baca mereka yang terpengaruh dengan kebiasaan memegang gadget atau laptop karena harus berada di rumah selama pandemi. Lebih jauh lagi self-regulatory skills merupakan bagian dari grant teori sosial kognitif dimana proses pembelajaran membutuhkan peran penting dari faktor sosial, faktor kognitif, dan tingkah laku (kebiasaan) sehingga di dalam proses belajar mengajar membutuhkan self-regulated atau manajemen diri” ujar dosen Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Budaya Asing (FBBA) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Testiana Deni Wijayatiningsih SPd MPd didampingi Sekretaris Bidang Kehumasan dan Keprotokoleran Lembaga Kerjasama, Urusan Internasional, dan Keprotokoleran (LKIKP) Unimus Novita Nining Anggraini SST MKes kepada pers di Semarang, Rabu (22/7/2020).

Merujuk Zimmerman dan Martinez-Pons (1990), Testiana Deni Wijayatiningsih menyatakan self-regulatory skills adalah konsep bagaimana seorang pembelajar menjadi pengajar bagi dirinya sendiri. Selain itu, self-regulatory skills adalah proses dimana pembelajar aktif dan terdorong kognitifnya, tingkah lakunya, dan perasaannya atau kenyamanan dirinya secara sistematik dan berorientasi pada hasil belajar merujuk pada tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan.  Lebih jauh lagi self-regulatory skills merupakan perpaduan antara kognitif domain dan afektif domain, dimana dua domain tersebut terbagi dalam enam komponen yakni; self-monitoring, self-concept, motivation, control startegies, dan volition control strategies. Dimana masing-masing komponen mendukung keberhasilan adanya manajemen diri dan aktivitas pada pembelajar.

Di sisi lain, ujar Testiana Deni Wijayatiningsih,literasi atau penguatan minat baca juga penting karena secara praktik, dengan adanya pandemik dan pembelajaran dilakukan di rumah secara daring mempengaruhi minat baca pembelajar. Mereka cenderung terpaku pada tugas dan materi online dari LMS atau Learning Management System yang diperoleh dari guru atau sekolahnya. Bagi pembelajar yang tidak suka membaca akan bertambah jarang membuka buku dan cenderung memilih mengerjakan tugas dengan mencari sumber dari internet padahal sebagian besar dari materi daring berasal dari buku cetak atau buku paket sekolah.

Keterkaitan yang erat antara self-regulatory skills dan literasi memberikan dampak yang signifikan terhadap suksesnya pembelajaran daring yang sudah dilakukan. Ini dibuktikan dari hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa ada hubungan positif antara self-regulatory skills dengan literasi pembelajar dimana hubungan tersebut dapat meningkatkan hasil belajar mereka yang dianalisis dari segi kognitif, metakognitif, tingkah laku, dan motivasi (Yang & Kim, 2014). Lebih jauh lagi adanya hubungan yang positif yang dimaknai bahwa penelitian tersebut memperoleh hasil yang memiliki keterkaitan erat antara pengajaran daring, self-regulatory skills atau manajemen diri & aktivitas pembelajar serta literasi khususnya literasi sosial, fungsional, dan literasi kritis.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa self-regulatory skills atau manajemen diri dan aktivitas pembelajar serta literasi sangat penting diprioritaskan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirancang pada rencana pengajaran daring selama pandemi. Hal tersebut juga membutuhkan sekali dukungan yang kuat dari orang tua, pendidik, sistem pembelajaran daring sekolah yang tertata dan sistematis agar pembelajaran daring lebih terkontrol dan terarah.(ks01)

ket foto: Testiana saat sebagai pembicara di seminar Asia TEFL 2019 di Thailand foto dok)

 

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dosen Sekolah Vokasi Undip Edukasi Penataan Arsip Keluarga dan Preservasi Preventif di Erlangga Semarang

SEMARANG (kampussemarang.com) – Dosen Program Studi Informasi dan Humas, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip) ...