Semarang Free Flight, Komunitas “Terbangkan” Burung

ket foto: Beberapa anggota komunitas SFF berpose bersama burung mereka di tengah tengah latihan dan pertemuan bersama (foto dok)

SEMARANG (kampussemarang.com)- Sejumlah anak muda dengan seekor burung masing-masing di tangannya, ada pula yang bertengger di pundak atau kepala mereka, kelihatan asyik bercengkerama dengan burung peliharaan mereka. Dengan latar belakang bebatuan (tanah) menjulang tinggi di kawasan galian C Rowosari Semarang yang dikenal dengan “Grand Canyon”-nya Semarang, komunitas Semarang Free Flight (SFF) ini beramai-ramai bareng bareng melepas burung mereka untuk terbang bebas beberapa saat kemudian dipanggil pemiliknya dengan kode tertentu dan ada pula yang meniupkan sempritan.

Menurut Leo Andre, pimpinan komunitas SFF ini, mereka merupakan penggemar berbagai jenis burung yang dijinakkan dan dilatih untuk misalnya teknik FTM atau FTM flight to me (burung diterbangkan, terbang berkeliling lalu dipanggil dan dia segera datang atau hinggap di tangan, pundak atau kepala pemilik), teknik “boomerang” yaitu dilempar langsung dipanggil dan burunag langsung hinggap di pemiliknya (mirip gerakan boomerang yang dilempar lalu putar balik ke pelemparnya), teknik FF atau free flight yaitu burung terbang bebas beberapa saat di udara lalu bisa balik sendiri saat recall atau dipanggil pemiliknya.

“Kami ada di Semarang sejak tahun 2016 dengan anggota sekitar 3 ribu orang yang secara tetapi riil dan sering kumpul-kumpul ada sekitar 200 sampai 250. Kami banyak melakukan even rutin seperti tiap Minggu di Simpang Lima. Juga even lomba-lomba, road show ke komunitas lain, kegiatan sosial tiap lebaran, juga edukasi ke sekolah-sekolah terkait cinta satwa dan cara memeliharanya. Kami lebih banyak mencurahkan kasih sayang pada burung piaraan kami daripada burung burung yang hanya ditaruh di dalam sangkar” ujar Leo bersama komunitasnya, Minggu (25/03/2018).

Terkait dengan mendapatkan burung yang bagus dan saat dilepas maka burung terbang keliling dan mau kembali ke pemilik saat dipanggil, Leo menyatakan kalau warga komunitas ini biasanya membeli burung sejak anakan. Lalu dengan kasih saying anakan burung dikasih makan, termasuk semacam bubur yang banyak dijual di toko online. Cara ngasih makannya pun unik dengan menggunakan spet suntik besar namun jarumnya diganti dengan pentil atau selang karet. Umur dua sampai 3 bulan biasanya anakan burung sudah mantap terbang dan bisa melakukan berbagai teknik terbang tersebut. Saling percaya antara pemilik dengan burung peliharaannya dibangun sejak burung lahir sehingga burung relative mudah dilatih, namun kalau kurang kasih saying atau kurang perhatian maka dampaknya burung saat dilepas atau dilempar ke udara dia akan escape atau melarikan diri alias tidak balik ke pemiliknya.

Mahalkah?

Untuk menyalurkan hobi dan punya burung yang free flight tidaklah harus mengeluarkan biaya sangat besar, semua tergantung dari jenis burung yang hendak dipeliharanya. Berbagai jenis burung bisa dijadikan free flight ini misal parkit, love bird, bahkan burung lokal seperti betet, nuri, jalak, kutilang, emprit bahkan burung gereja bisa dilatih berbagai teknik terbang bebas. Cara memperlakukan burung seperti mereka sebenarnhya sudah ada sejak jaman dulu namun bedanya kalau dulu burung hanya dijinakkan tetapi kelompok ini selain menjinakkan sekaligus diberi skill atau melatihnya dengan berbagai latihan.

“Harga anakan burung bervariasi tergantung jenisnya. Parkit misalnya Rp 50 ribu, love bird (LB) hijau Rp 150 ribu, falk atau parkit Australia (cocatiel) bisa mencapai Rp 500 ribu, YSC (yellow side conure) dan SC (sun conure) bisa sampai Rp 2,5 sd Rp 3 juta. Bahkan jenis anakan Macau sekitar Rp 25 juta yang paling murah dan ada pula yang ratusan juta” ujar Leo.

Dan kalau burung menjadi pemenang lomba maka harganya tidak punya patokan khusus, bisa sampai ratusan juta karena. Jangankan jadi pemenang, yang tidak menang lomba tetapi sudah “jadi” juga tidak ada patokan harga. Semuanya terganhtung harga dari seller dan pembelinya.(ks01)

ket foto: Leo Andre bersama Falk Australianya (foto dok)

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dosen Sekolah Vokasi Undip Edukasi Penataan Arsip Keluarga dan Preservasi Preventif di Erlangga Semarang

SEMARANG (kampussemarang.com) – Dosen Program Studi Informasi dan Humas, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip) ...