
ket foto: Rektor Unimus (kiri) saat memberi cinderemata pada Dr Busyro Muqoddas dan HA Dahlan Rais (Foto dok)
SEMARANG (kampussemarang.com)- Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng menggelar
Seminar nasional pra tanwir Muhammadiyah di kampus Unimus, Selasa (21/02/2019). Seminar yang dibuka Wakil Rektor III Unimus Drs Samsudi Rahardjo MM MT ini menampilkan pembicara kunci Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Drs H Tafsir MAg, dan pembicara Dr Muh Busyro Muqoddas MHum (PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM), Drs HA Dahlan Rais MHum (PP Muhammadiyah Bidang Konsolidasi) serta Prof Dr H Masrukhi MPd (Rektor Unimus).
Ada bebepa poin inti kesimpulan seminar di antaranya sikap yang menyangkut organisasi Muhammadiyah terhadap Negara NKRI, Negara Pancasila dan UUD 1945 yang belakangan ada sejumlah kelompok atau golongan yang menggembar-gemborkan hal-hal tersebut. Muhammadiyah secara tegas sejak lama telah menganggap Pancasila dan UUD 1945 serta NKRI sudah final. Sehingga saat ini sudah tidak perlu diperbiincangkan lagi, karena sudah lama diterima dan sejak itu Muhammadiyah sudah mengisinya dengan isian-isian pembangunan sejalan dengan komitmen Muhammadiyah tersebut.
“Bagi masyarakat dan organisasi Muhammadiyah, persoalan penentuan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan landasan Negara RI dan NKRI harga mati merupakan hal-yang yang secara bulat sudah disetujui dan disepakati warga Muhammadiyah sejak dulu. Itu masa lalu, artinya sudah sejak dulu Muhammadiyah sudah ikut menentukan RI sebagai Negara Pancasila yang didalamnya ada mayoritas umat Islam, bukan menginginkan Negara Islam. Sejak itu pula sampai sekarang dan selamanya, Muhammadiyah mengisi ruang-ruang pembangunan yang telah didasari dan dilandasi Pancasila. Sehingga kalau belakangan ada sejumlah golongan yang menggembar-gemborkan NKRI harga mati, Pancasila Dasar Negara dan lain-lain barangkali perlu dilihat lebih teliti. Jangan-jangan pihak yang gembar gembor NKRI harga mati dan lain-lain itu, justru yang belum tentu menghendaki persatuan kesatuan NKRI” ujar Drs H Tafsir MAg.
Diakui oleh Tafsir MAg, persoalan hubungan antara negara dan agama, terutama menyangkut masyarakat Islam di Indonesia selalu menjadi perdebatan tanpa akhir. Apakah masyarakat umat Islam Indonesia menginginkan Negara Islam di Indonesia atau tidak menginginkan Negara Islam selalu menjadi perdebatan. Namun Muhammadiyah sejak lama sudah menetapkan termasuk ditegaskan kembali pada Muktamar di Makasar beberapa waktu lalu kalau warga Muhammadiyah secara bulat menyepakati dan mendukung NKRI, sebagai Negara hasil komitmen bersama seluruh masyarakat Indoneia. Pada sidang Tanwir Muhammadiyah di Ambon 24-26 Februari mendatang akan ada kemungkinan penegasan kembali komitmen Muhammadiyah ini, meski sebetulnya masalah NKRI, Pancasila, UUD 1945 bagi Muhammadiyah sudah “masa lalu”, sudah lama dijadikan komitmen dan sudah maju mengisi komitmen tersebut.
Senada dengan Tafsir, Muh Busyro Muqoddas dan Dahlan Rais menyatakan persoalan pengakuan pada Pancasila, NKRI, UUD 1945 bagi Muhammadiyah sudah final. Dan sejak tahun 1945 sampai sekarang Muhammadiyah mengisi NKRI. Terkait tentang kemungkinan adanya sejumlah upaya yang dikawatirkan merongrong Negara NKRI, Muqoddas menyebutkan asalkan saja kekuatan masyarakat Indonesia tetap solid, termasuk umat Islam Indonesia solid maka rongrongan akan bisa diatasi.
Sedangkan Prof Masrukhi menyampaikan perlunya pembelajaran karakter agama dan Pancasila dipelajari dan diamalkan semua elemen masyarakat, termasuk generasi mudanya saat ini lewat keluarga, sekolah dan lingkungan yang solid. Juga tidak mudah diadu domba oleh berbagai kekuatan yang tidak menginginkan keutuhan NKRI serta membangun NKRI menjadi Negara yang kuat di segala bidang termasuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakatnya. (Sgi)
Kampussemarang.com Portal Berita Online – Informasi Seputar Berita Khusus Kampus Tentang Pendidikan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dari Berbagai Kampus di Kota Semarang

